Akhir tahun 2009 ditandai dengan dikhitannya Daffa, bungsu saya. Prosesnya amat singkat. Hari Jumat, 25 Desember 09, Daffa memastikan keinginannya untuk dikhitan dan memilih sebuah rumah sakit swasta di dekat rumah sebagai tempat khitanan. Sabtu dan Minggu telpon sana-sini memberitahu kerabat dan memesan katering untuk acara syukuran keesokan harinya. Hampir semua katering yang dihubungi menolak karena mepetnya waktu. Untunglah ada katering langganan kantor isteri saya yang mungkin “enggak enak hati” menolak permintaan isteri saya. Senin, 28 Desember 2009, Daffa dikhitan dengan lancar. Siang harinya ba’da Zhuhur diadakan syukuran mengundang ibu-ibu pengajian. Alhamdulillah hampir semua yang diundang bisa hadir, sambil menikmati makan siang yang disediakan katering di atas.
Sabtu 2 Januari 2010, Televisi Sony Bravia di ruang keluarga tidak bisa dihidupkan. Tv yang menurut ukuran ekonomi kami lumayan mahal itu mogok beroperasi mungkin karena cipratan petir yang memang menggelegar beberapa saat sebeluumnya. Malam harinya saya mendatangi toko tempat kami membeli, sebuah toko elektronik besar di sebuah Mall kalau-kalau masih ada garansinya. Namun karena sudah dua tahun masa garansinya habis, dan saya disarankan untuk menghubungi unit layanan SONY secepatnya untuk perbaikan.
Sesampainya di rumah, sekitar jam 20:30, entah ada “angin” dari mana saya meminta Tidy, anak kedua saya, menghidupkan TV itu. Apa yang terjadi? Masya Allaah! Televisi LCD dengan layar lumayan lebar itu ternyata bisa hidup. Alhamdulillah!
Mudah-mudahan Allah memanjangkan “umur” televisi itu.
Minggu, 3 Januari 2010, sekitar jam 12:00, Tidy membawa kabar mengagetkan. Dompetnya hilang. Isinya beberapa lembar uang kertas, KTP, SIM A dan C, STNK, dan kartu ATM. Setelah dicari dengan lebih teliti tanpa hasil, dengan diantar seorang kerabat Tidy melaporkan kejadiannya ke polisi. Sebelum itu dia menelpon bank untuk memblokir kartu ATM-nya.
Kami sekeluarga pasrah, sambil tak lepas berdoa semoga ada orang baik yang mengembalikan dompet itu. Uang yang ada di dalamnya sama sekali tidak terfikirkan, karena jumlahnya juga relatif tidak banyak. Saya kemudian tertidur dan sekitar Ashar saya dibangunkan isteri saya sambil berbicara agak berteriak penuh kegembiraan: dompet Tidy ditemukan seseorang dan dikembalikan ke rumah. Isinya utuh tak kurang suatu apapun. Dan hebatnya orang itu langsung saja pamit tanpa membuka helmnya terlebih dahulu sehingga kami tidak mengetahui wajahnya dengan jelas. Tidy hanya bisa berujar terimakasih. Dia sebenarnya berniat memberikan sejumlah uang untuk orang itu sebagai ucapan terimakasih, tetapi orang itu agaknya tidak mengharapkan karena dia langsung memacu motornya.
Siapapun hamba Allah itu, saya doakan semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam segala niat-baiknya. Amiin.
