Kita berbusana setidaknya karena kita kepingin menutup aurat sesuai dengan aturan agama. Atau untuk menahan ancaman cuaca seperti panas atau dingin.
Lebih jauh, orang berbusana juga karena ingin menunjukkan siapa dirinya. Cobalah datang ke pesta-pesta orang berpunya, kita mungkin akan terpesona melihat keragaman model busana yang mereka kenakan. Lebih terpesona lagi barangkali kalau kita melihat bandrol busana-busana itu. Mereka sangat memperhatikan detil-detil berpakaian. “Saltum” (salah kostum) adalah sebuah aib.
Seorang ulama juga dapat kita kenali dari busana yang dikenakannya, seperti: berpakaian ala arab, memakai sorban, berpeci, dsbnya. Meskipun mungkin tidak ada salahnya, saya belum pernah melihat seorang penceramah, ustaz, ulama, atau kiai, tampil di mimbar hanya memakai t-shirt dan celana jeans. Bila ada yang demikian bisa jadi ummat akan berceloteh macam-macam, dan lain waktu sang penceramah itu tidak akan diminta panitia untuk tampil lagi.
Baju koko (kadang disebut juga baju takwa) dan peci adalah pasangan busana yang biasanya kita pakai sewaktu sholat Jumat, misalnya. Tidak heran bila busana seperti itu lambat laun menggambarkan ketakwaan seseorang. Pada wanita, kita bisa menyamakannya dengan jilbab. Seorang wanita yang memakai jilbab pasti mengesankan seorang wanita muslimah yang penuh ketakwaan.
Tetapi … kita memang tidak boleh menjeneralisir apapun di dunia ini. Coba lihat Ryan si Penjagal dalam sidang-sidangnya. Dia memakai peci dan berbaju koko, bahkan pernah bergamis. Perhatikan juga berita di persidangan. Banyak terdakwa yang memakai busana putih dan berpeci. Entah apa yang dikehendakinya dengan berbusana seperti itu. Mungkin agar para hakim melihatnya sebagai seorang manusia yang sudah berubah dari seorang penjahat menjadi manusia yang bertakwa, dan karenanya akan mengurangi vonis.
Anda kenal Yusuf Emir Faishal? Iya, betul. Seorang anggota DPR yang terkena kasus korupsi dan baru saja divonis 4,5 tahun penjara. Coba perhatikan busananya di dalam persidangan: berbaju koko dan berpeci. Alangkah kelihatan alimnya!
Dan … mohon maaf beribu maaf kepada para “jilbaber sejati”, saya mengenal oknum wanita berjilbab yang (maaf sekali lagi!) Married by accident, menikah karena sudah hamil terlebih dahulu. Naudzubillah ..
Sambil memohon maaf juga kepada para hamba Allah yang penuh takwa, yang senantiasa berbusana sesuai dengan petunjuk agama, saya fikir sudah waktunya di samping melihat “bungkus” kita juga harus pandai melihat “isi” dengan sebaik-baiknya ..
sama dunx….
saya juga kenal ama jilbaber yang MBA…