Hampir setahun saya ditemani oleh Hawlette-Packard, dan tiba-tiba saja “penyakit” saya kambuh: bosen. Maka hari ini dengan sukses “setan-gadget” menggoda saya untuk membawa pulang sebuah MacBook putih manis yang lumayan tipis, namun lumayan juga menguras isi kantong. Anak saya yang sulung, Hirzi, yang kebetulan ikut melihat bagaimana prosesnya si “setan” menggoda ayahnya langsung tertawa cengengesan. Si HP sudah pasti jatuh ke tangannya dan si EEE mungkin akan menjadi bawaan Tidy, anak kedua saya.
Sejatinya Apple bukanlah sesuatu yang amat asing bagi saya. Sekitar tahun 1987 seorang teman Orari, (mas Gun / YC1HZU anda di mana ya sekarang?), menawarkan sebuah desktop apple-compatible IIe bermerk Datamini. IBM-PC seingat saya sudah muncul saat itu tetapi harganya lebih mahal. Saya pun waktu itu tidak cukup tahu perbedaan keduanya sehingga mengambil yang lebih murah saja. Cukup lama saya memakainya, sambil sering mengeluh karena keterbatasan software-nya. Desktop Apple IIe itu akhirnya cuma buat mengetik sambil bermain Lode Runner merintang-rintang waktu. Dari situlah saya mengenal komputer dan terus dengan sukses mempengaruhi kehidupan saya sampai saat ini.
MacBook, welcome to the family ..