Transmitter

TransceiverKalau tidak salah ingat saya menjadi anggota Orari tahun 1984. Jenjang anggota Siaga / YD tidak terlalu lama saya sandang. Ketika ada kesempatan, saya mencoba mengikuti ujian naik tingkat dan alhamdulillah lulus. Tanpa menyogok! Jenjang YC terus saya pegang sampai saat ini, tanpa keinginan naik tingkat lagi karena merasa kurang patut menyandang callsign YB.

Sampai kurun waktu 1994 saya selalu aktif mengudara dan tidak kurang aktifnya di kepengurusan Orari Lokal Bekasi. Sampai kemudian rasa jenuh perlahan-lahan menjalar dan aktifitas online pun memudar. Sekarang saya hampir tidak pernah on-air lagi meski transceiver ada di mobil yang saya pakai dan keanggotaan saya masih tetap aktif.

Dengan transceiver band 2 meter yang biasa saja di mobil saya bisa berkomunikasi dengan jarak yang relatif jauh. Bahkan dengan bantuan repeater jarak komunikasi ini menjadi kian jauh. Bila ingin bermunikasi lebih jauh lagi (DX-ing) saya bisa menggunakan transceiver pada spektrum frekwensi HF. Berbicara dengan rekan amatir antar pulau atau bahkan manca negara semudah memencet Push-to-talk button di mikropon.

Tak terbayangkan oleh saya bagaimana orang berkomunikasi di zaman baheula, sampai kemudian saya mendapatkan url ini:

http://home.luna.nl/~arjan-muil/radio/history/malabar/malabar1.html

Transmitter Gunung PuntangTransmitter di Gunung Malabar ini digunakan untuk berkomunikasi dengan Belanda yang berjarak sekitar 12.000 KM. Antena yang digunakan untuk memancarkan transmisinya mempunyai panjang 2 KM membentang di antara gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian sekitar 500 meter dari dasar lembah. Pemancar ini antara lain masih menggunakan teknologi kuno yaitu busur listrik (Poulsen) untuk membangkitkan ribuan kilowat gelombang radio dengan panjang gelombang 20 km s/d 7,5 km. Panjang gelombang seperti ini tentu terdengar “aneh” sekarang. Radio komunikasi yang sangat lazim dipergunakan saat ini berpanjang gelombang 2 meter, 11 m, 70 cm, 40 m, 80 m. Dan bila Handphone anda bekerja pada frekawensi 900 MHz berarti panjang gelombangnya adalah 33 cm. Lambda (mtr) = 300 / frekwensi (mhz).

Teknologi pemancar radio pada kurun 1923 itu masih amat sangat boros energi. Bayangkan untuk keperluan pemancar itu pemerintah Belanda sampai harus membuat PLTA di Dago, PLTU di Dayeuh Kolot, dan sebuah PLTA lagi di Pengalengan.

Lebih jauh tentang transmitter ini silakan klik LINK ini.

73
de yc1kkv

7 Responses to “Transmitter”

  1. mayaa says:

    fotonya keren ren heuheu yang pertama diliat fotonya duluan

  2. hani says:

    break…break…apa bisa dicopy gitu, ganti…hehehe

    apa kabar pak ihsan sekeluarga :)

  3. Dah lama euy aku gak nge-break gara2 perangkatnya rusak. kalo ndak dipake lg boleh deh di-hibahin he..he.. :D

    Ok pak dlapan anam, dlapan satu tiga, stand by dech…

  4. hem says:

    salam kenal. nice blog.

    YD3RLU

  5. sugeng ristanto says:

    halo salam kenal fromjombang

  6. sumantri says:

    hallo boss salam kenal dari CIANJUR sokatuh mengudara lagidi hf rame banyak teman teman di mana 14200mhz atau 7070mhz salam SUMANTRI-CIANJUR .

  7. agustomank says:

    Salam kenal dari aku, wah dulu masih aktif ngebraek di 80 mter/100 mtr aku sering ketemu dengan rekan2 dari bekasi wah pemancarnya keren2 banget kedegaran di jakarta jelas sekali. Buat teman2 yg ingin melihat sekema 80 mtr band yg biasa mangkal di Radio SW1 gelombang 30 sampai 40 Mhz memakai transistor tapi jangkaunya jauh mampir di blogku aja sekemanya dah aku scan. Thanks buat yg punya blog

Leave a Reply