Menurut sebuah riwayat Sayyidina Ali RA sewaktu menjadi khalifah pernah menghentikan rapat penting dengan para petinggi negara hanya untuk menimang-nimang seorang anak yang kebetulan terlihat oleh beliau. Seorang petinggi kekhalifahan bertanya kepada beliau: “Ya khaliifah, mengapa rapat sepenting ini harus ditunda hanya untuk menimang seorang anak?”.
Sayyidaina Ali RA menjawab, “Almarhum ayah anak ini adalah guru saya. Karena beliau sudah wafat saya tidak bisa lagi melayani dan menghormati beliau. Karenanya saya tumpahkan seluruh rasa hormat saya itu kepada anak beliau, si kecil ini.”
. . . . . . . . . . .
Tadi siang bersama Ummi (ibu) dan isteri, saya berkesempatan menghadiri acara pernikahan putri dari K.H. Hasan Azhari di Mampang Perapatan. Beliau pernah lama menuntut ilmu di Makkah Al Mukarromah pada kurun waktu 50 ~ 60 an, berguru kepada Allahyarham Syeikh Yassin Al Fadani di Darul Ulum Addiniyah. Almarhum abi (ayah) saya, K.H. M. Muhadjirin Amsar Addari, pun pernah bermukim cukup lama di sana, dan bahkan pernah menjadi guru di Darul Ulum Addiniyah Makkah. Di Makkah almarhum abi benar-benar “tidur satu bantal makan satu piring” dengan K.H. Hasan Azhari, dan beberapa orang sahabat lain, seperti Almarhum K.H. Ishak Salim Gandaria dan Almarhum K.H. Abdul Hamid Cipete.
Setelah mengucapkan salam, pak K.H. Hasan Azhari agaknya tidak langsung mengenali saya karena penglihatan beliau yang sudah mulai jauh berkurang. Ketika saya sebut nama saya yang lengkap sambil menyebut “dari Bekasi”, beliau langsung merangkul saya dan mencium tangan saya! Ya, mencium tangan saya!. Dalam budaya Betawi cium-tangan adalah pengungkapan rasa hormat yang dalam. Tentu saja ini sangat mengagetkan saya. Refleks saya menarik tangan saya karena merasa sangat tidak patut menerima penghormatan sedemikian. Beliau lalu mengatakan kepada hadirin yang ada di sekitar kami: “Ini Ihsan, putra dari Syeikh M. Muhadjirin Bekasi. Ini anak guru saya !!”. Begitu kira-kira ucapan beliau, yang membuat saya tersipu.
Mata beliau tampak agak berlinang, mungkin mengingat saat-saat menuntut ilmu puluhan tahun yang lalu. Dan meskipun badan beliau sudah mulai ringkih karena usia, dengan tertartih-tatih beliau menyiapkan makanan, minuman, dan menyediakan segala sesuatunya di meja.
“Jangan repot-repot, pak Kiai!”, kata saya, merasa kikuk dilayani seperti itu.
Beliau hanya tertawa perlahan. “Enggak apa-apa. Jangan lupa, antum anak guru saya.”
Masya Allah!! Sedemikian besar rasa hormat beliau kepada guru!
Dan saya teringat dengan kisah Sayyidina Ali RA di atas ..
Tags: darul ulum, guru, yassin alfadani
Cerita nya Bagus Dan Menarik. Itu Bisa Kita Jadi Kan Pelajaran Yang Sangat Berharga
Assalamualaikum….!!!!
Memeng sebagai murid yang berbakti kita harus memberikan rasa hormat kepada guru kita agar ilmu-ilmu yang mereka berikan bermanfaat bagi kita, namun kita jangan hanya memberikan rasa hormat tersebut kepada guru tersebut saja, tetapi juga kepada keluarganya sebagaimana riwayat Syaidina Ali yang telah diceritakan diatas. sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf.
wassalamualaiku…!!!!
kita harus berbakti kepada guru kita walaupun guru kita sudah tidak ada maka dari itu kita menujukan bakti kita dengan hormat kepada anaknya
Assalamualaikum Wr.Wb ,,,,
Memang kita harus menghormati guru kita yang telah memberikan kita begitu banyak ilmu, sebagaimana yang tadi dilakukan oleh salah satu murid kyai kepada anda, bahkan syaidina ali saja menghentikan rapat yang begitu pentingnya untuk menghormati anak dari gurunya, dan kita harus mencontoh apa yang dilakukanya, tapi kebanyakan orang malah tidak memperdulikan bahkan tak memberi salam saat guru yang telah mengajarkanya lewat. Sekian dari saya jika ada lebih kurangnya mohon maaf.
Wassalamualaikum Wr.Wb
[...] Tulisan saya yang lain, dengan judul sama, bisa dibaca di sini. [...]
Memang betapa penghormatan yang luar biasa yang masih dilakukan oleh-oleh ulama-ulama kita terhadap guru-gurunya dan juga keluarganya.
Saya juga pernah dapat riwayat…Entah dari siapa awalnya..:
Dulu pernah ada seorang Ulama besar sedang mengajar murid-muridnya..Tiba-tiba di tengah-tengah pelajarannya sang ulama tersebut menghentikan pelajarannya…Kemudian berdiri sejenak…Ketika Pengajian selesai..salah seorang muridnya bertanya..Ada apa gerangan syekh tadi berdiri ketika ditengah-tengah mengajar..???
Syekh tadi menjawab…:..Tadi ketika ditengah aku mengajar..Salah seorang anak guruku bermain-main didepan bersama teman-temannya..Aku berdiri sejenak kerana menghormatinya……….Subhanalloh…
Ass.
Alhamdulillah……
Ternyata bagus sekali sharing ente, ane anak cipete juga cukup mengenal sekali dan dekat bahkan ada hubungan kerabat dari babe ane ke (Alm). KH. Abdul Hamid.
Sosok yang belum tergantikan di Cipete….seorang alim dan “orang tua” yang gigih menimba ilmu walau ke tanah suci, tempat yang amat jauh sekali dan patut dijadikan panutan oleh kita2 yang masih muda ini.
Termasuk pd (alm) Abi ente….patut dijadikan panutan.
Insya Alloh.
Wass.
Soleh