Sekitar tahun 1979, dalam sebuah acara Latihan Dasar Kepemimpinan sebuah organisasi pemuda Islam yang saya ikuti, panitia menetapkan saya sebagai seorang pemimpin sidang dalam session “Teknik dan Tata Cara Bersidang”. Dengan bangga, karena terpilih dari sekian puluh peserta latihan, saya berpindah tempat duduk dan mulai membuka sidang. Belum sempat saya bicara banyak beberapa panitia langsung menghujani saya dengan interupsi yang membuat saya bingung, panik, dan tak bisa berfikir apa yang sepatutnya saya lakukan. Rasanya saya seperti ingin menangis menghadapi hujan-badai interupsi itu, yang belakangan saya ketahui disengaja oleh panitia untuk mengetahui respons saya, yang lalu dijadikan bahan bahasan bagi semua peserta latihan.
Saya sudah lupa bagaimana “nasib” saya selanjutnya waktu itu. Tetapi melihat wajah pak Marzuki Alie, Ketua DPR kita yang terhormat dalam sudang paripurna kasus Century hari ini, mengingatkan saya atas “nasib” saya puluhan tahun yang silam itu.
Apakah mimik wajah yang terhormat pak Marzuki Ali tadi persis seperti wajah saya dulu ..? Wallahu a’lam!


