Archive for January, 2010

Ho oh ..

Friday, January 22nd, 2010

Catatan: Ini “copy-paste” ..

Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dari Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok. “Apa betul ini Jalan Sudirman?” “Ho oh,” jawab si penjual rokok.

Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. “Apa ini Jalan Sudirman?” Polisi menjawab, “Betul.”

Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudannya. “Apa ini Jalan Sudirman?” Gus Dur menjawab “Benar.”

Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab “Ho oh,” lalu tanya polisi dijawab “betul” dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata “benar.”

Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata, “Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya benar.”

Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, “Jadi Anda ini seorang sarjana?”

Dengan spontan Gus Dur menjawab, “Ho … oh!”

Tempus fugit

Monday, January 11th, 2010

Ketika terbangun oleh azan Subuh tadi mata saya langsung melirik jam dinding dan seketika sadar bahwa jam itu mati. Jarum pendeknya ada di angka 12, sedang jarum panjangnya terletak di antara angka 3 dan 4. Saya langsung mandi, sholat Subuh dan selanjutnya mencari-cari batu batere di laci. Biasanya saya selalu menyediakan beberapa untuk pengganti batere di wireless mouse saya.

Saya ingat betul jam dinding bermerk Seiko itu sudah amat lama menempel di dinding; bahkan sebelum saya pindah rumah ke jalan Dewi Sartika ini. Sebuah hadiah pernikahan dari boss isteri saya: almarhum pak Suhartaji. Berarti jam dinding itu sudah mulai menunaikan tugasnya sejak pertengahan tahun 1985. 25 tahun yang silam.

Sambil berjingkat sedikit saya mengambil jam dinding itu, dan membaliknya. Telihat sebuah label dipenuhi debu yang bertuliskan : 1st change 27-03-87. Cukup lama juga sebuah batere mampu mencatu daya: sekitar 2 tahun.  Saya langsung memasang batu batere baru dan mencocokkan waktu di jam dinding itu.

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Begitu seterusnya. Semoga sajalah saya mampu mengisi waktu-waktu yang lewat dengan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. Amin.

Tempus fugit. Time really flies ..

Komputer Jinjing

Sunday, January 10th, 2010

Catatan: Sebuah “Tahaddus Binni’mah”.

Lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 September 2005, saya membeli sebuah laptop Acer pada kisaran harga Rp 7 juta rupiah. Sekitar setahun sebelumnya, untuk sebuah laptop bermerk DELL bekas, saya membelinya di harga Rp 5 juta lebih sedikit. Saya mencatat hal itu pada blog saya di: s i n i.

Dua tahun kemudian, 27 November 2007, saya kembali harus merogoh kantong untuk mendapatkan sebuah Laptop HP 520. Harganya Rp 5 juta, lebih sedikit. Persisnya saya lupa. Ini artinya kalau dulu dengan anggaran Rp 5 juta saya hanya bisa mendapatkan sebuah laptop bekas (dengan kondisi tertentu) sekarang saya bisa mendapatkan sebuah laptop baru.

Setahun yang lalu, tepatnya di penghujung tahun 2008, saya membeli sebuah Macbook seharga $ 999. Ini adalah Macbook paling murah pada waktu itu. Karena kurs rupiah pada waktu itu, sependek saya ingat, > Rp 11.000, maka harganya ada pada kisaran hampir Rp 12 juta. Sekarang Macbook tersebut dihargai $ 919. Dengan kurs sekitar Rp 9.400 saat ini, maka harganya sekarang “cuma” Rp 8,638,600.

Saat ini, di tengah bermunculannya NETBOOK dengan segala merk dan modelnya, sebuah netbook yang sudah cukup memadai untuk pekerjaan kantor dan berinternet, harganya dimulai di sekitar Rp 2.800.000 saja, dan cenderung terus menurun. Harga yang cenderung terus turun ini mudah-mudahan sedikit meringankan kita para orangtua memenuhi kewajiban melengkapi anak-anak dengan segala kebutuhan sesuai dengan zamannya.

Dan, beginilah barangkali konsekwensi-logis yang harus saya tunaikan sebagai seorang bapak yang dikaruniai anak 5 orang laki-laki  yang hampir setiap waktu “dicekoki” informasi tentang segala macam gadget dari media yang saya langgan di rumah. :)

Catatan Akhir dan Awal Tahun

Monday, January 4th, 2010

Akhir tahun 2009 ditandai dengan dikhitannya Daffa, bungsu saya. Prosesnya amat singkat. Hari Jumat, 25 Desember 09, Daffa memastikan keinginannya untuk dikhitan dan memilih sebuah rumah sakit swasta di dekat rumah sebagai tempat khitanan. Sabtu dan Minggu telpon sana-sini memberitahu kerabat dan memesan katering untuk acara syukuran keesokan harinya. Hampir semua katering yang dihubungi menolak karena mepetnya waktu. Untunglah ada katering langganan kantor isteri saya yang mungkin “enggak enak hati” menolak permintaan isteri saya. Senin, 28 Desember 2009, Daffa dikhitan dengan lancar. Siang harinya ba’da Zhuhur diadakan syukuran mengundang ibu-ibu pengajian. Alhamdulillah hampir semua yang diundang bisa hadir, sambil menikmati makan siang yang disediakan katering di atas.

Sabtu 2 Januari 2010, Televisi Sony Bravia di ruang keluarga tidak bisa dihidupkan. Tv yang menurut ukuran ekonomi kami lumayan mahal itu mogok beroperasi mungkin karena cipratan petir yang memang menggelegar beberapa saat sebeluumnya. Malam harinya saya mendatangi toko tempat kami membeli, sebuah toko elektronik besar di sebuah Mall kalau-kalau masih ada garansinya. Namun karena sudah dua tahun masa garansinya  habis, dan saya disarankan untuk menghubungi unit layanan SONY secepatnya untuk perbaikan.

Sesampainya di rumah, sekitar jam 20:30, entah ada “angin” dari mana saya meminta Tidy, anak kedua saya,  menghidupkan TV itu. Apa yang terjadi?  Masya Allaah! Televisi LCD dengan layar lumayan lebar itu ternyata bisa hidup. Alhamdulillah!

Mudah-mudahan Allah memanjangkan “umur” televisi itu.

Minggu, 3 Januari 2010, sekitar jam 12:00, Tidy membawa kabar mengagetkan. Dompetnya hilang. Isinya beberapa lembar uang kertas, KTP, SIM A dan C, STNK, dan kartu ATM. Setelah dicari dengan  lebih teliti tanpa hasil, dengan diantar seorang kerabat Tidy melaporkan kejadiannya ke polisi. Sebelum itu dia menelpon bank untuk memblokir kartu ATM-nya.

Kami sekeluarga pasrah, sambil tak lepas berdoa semoga ada orang baik yang mengembalikan dompet itu. Uang yang ada di dalamnya sama sekali tidak terfikirkan, karena jumlahnya juga relatif tidak banyak. Saya kemudian tertidur dan sekitar Ashar saya dibangunkan isteri saya sambil berbicara agak berteriak penuh kegembiraan: dompet Tidy ditemukan seseorang dan dikembalikan ke rumah. Isinya utuh tak kurang suatu apapun. Dan hebatnya orang itu langsung saja pamit tanpa membuka helmnya terlebih dahulu sehingga kami tidak mengetahui wajahnya dengan jelas. Tidy hanya bisa berujar terimakasih. Dia sebenarnya berniat memberikan sejumlah uang untuk orang itu sebagai ucapan terimakasih, tetapi orang itu agaknya tidak mengharapkan karena dia langsung memacu motornya.

Siapapun hamba Allah itu, saya doakan semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam segala niat-baiknya. Amiin.