Archive for April, 2009

Singapore

Wednesday, April 29th, 2009

singaThis afternoon my wife phoned me, asking for my permission to go to Singapore. She and some of her lady friends are going to do their office work there, and for some shoppings, certainly. She also asked me whether I can accompany them or not.

Having visited Singapore for several times I must say that Singapore is not a kind of “a must visit” place. Going there is just to fulfil the curiosity. Sure there are many interesting places there, but we can find more and more interesting ones here in our country. We have more than they have, except for one thing: we do not manage ours as well as they do theirs. The shopping centres are also usual. We can find same places here in Jakarta. “I bought it in Singapore ” is not an “amazing phrase” any longer. It sounds so usual. And “Having been to Singapore” is also not a pride any more.

So I told my wife, I gave her my permission. Just be careful, and remember to use the credit card wisely.  But I do not want to go there ..

Dalia Mogahed

Saturday, April 25th, 2009

Meski saya mengenal ada oknum wanita berjilbab yang sangat tidak pantas memakainya karena prilakunya yang tidak islami, saya dan kita semua tentu tahu bahwa memakai jilbab adalah tuntunan agama dan karenanya akan membawa kesejukan mata dalam memandang. Dan saya merasa sangat patut menyebut sebuah nama dalam hal jilbab ini: DALIA MOGAHED.

Wajahnya sejuk, manis dan memancarkan kecerdasannya yang luar biasa. Dalia memang sangat cerdas. Kalau tidak, tentu saja Presiden Barrack Husen Obama tidak akan menjadikannya sebagai penasehatnya di Gedung Putih. Dalam sejarah Dalia lah wanita berjilbab pertama di Gedung Puith yang bersatus sebagai Penasehat Presiden, sebuah jabatan yang sangat luar biasa dalam percaturan politik negara adidaya itu. Sebuah pekerjaan yang mewajibkannya menyediakan informasi akurat yang dibutuhkan Presiden Obama dalam mengambil keputusan.

Sebelum itu Dalia bekerja sebagai seorang analis senior dan direktur eksekutif di Gallup Center for Muslim Studies. Bersama dengan John L. Espito, Dalia juga menulis buku “Who Speaks on Behalf of Islam? What a Billion Muslims Really Think”. Buku ini memuat suatu studi menyeluruh tentang pendapat masyarakat Muslim di seluruh dunia.

Masuknya Dalia dalam lingkaran elit Gedung Putih tentu saja patut disambut hangat. Kita mengharap penuh Dalia akan dapat menghapus berbagai tuduhan tak benar yang selama ini menyelimuti sementara rakyat Amerika.

Shubhanalloh!

Kopi

Friday, April 24th, 2009

Dalam setiap perjalanan menuju Bandung atau Ciater saya pasti mampir di Rest Area KM 19 untuk memesan segelas kopi Starbuck teman perjalanan pencegah kantuk. Isteri saya selalu ngedumel panjang pendek melihat harganya.

“Harga kopi yang pantas itu sekitar 2 ribu perak per gelas.” Begitu dia berargumentasi mengapa dia tidak pernah setuju saya meminum kopi Starbuck.

“Memangnya gampang cari duit .. ?”, lanjutnya bersungut-sungut.

Saya tidak merasa perlu menjawabnya, karena anak-anak pasti koor mengucapkan: “Mama kampungan ….”.

Rupanya meski sudah cukup banyak belahan bumi yang dikunjungi, dalam soal kopi, pola fikir isteri saya itu masih tetap saja katro … nDesit! Hahaha. Sebabnya mungkin karena seumur-umur dia tidak pernah sukses menjadi seorang penikmat kopi.

Rupanya memang tidak mudah membuat Espresso (hidangan kopi kesukaan saya) yang benar itu. Berdasarkan peraturan Kompetisi Barista Indonesia, yang diambil dari peraturan World Barista Championship, definisi espresso adalah: “1 oz (k.l 30 ml) minuman yang disiapkan dengan berbagai gram kopi (bergantung kopi dan tingkat gilingan) yang diseduh pada temperatur 90,5 – 96 C dengan tekanan didih dari mesin sebesar 8,5 – 9,5 atm, dengan waktu seduh antara 20 – 30 detik.” Bila syarat itu tidak terpenuhi maka cairan pekat yang berasal dari biji kopi itu tidak boleh disebut Espresso.

Lha, lalu, apa namanya ..?

Surat Kepada Gus Dur

Monday, April 20th, 2009

Catatan: Ini sebuah copy-paste dari sebuah milis.
===============================

Surat Kepada Gus Dur
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Gus Dur, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak berkomunikasi laiknya
sesaudara. Benar seperti yang pernah Sampeyan ramalkan, masing-masing kita akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan kesempatan ngobrol ngalor-ngidul seperti dulu sudah semakin sulit didapat. Dulu kita masih surat-suratan, lalu ketika semakin sibuk, kita hanya –tapi alhamdulillah masih— telepon-teleponan. Kemudian telepon-teleponan pun menjadi kian jarang. Untunglah Sampeyan termasuk figure publik yang gerak-gerik dan ucapan-ucapannya selalu diberitakan, sehingga saya pun selalu dapat mengikuti kegiatan Sampeyan.

Seingat saya sejak Sampeyan menjadi ketua umum jam’iyah NU, hubungan kita sudah berubah menjadi agak “formal”. Sampeyan yang biasa memanggil saya njangkar, “Mus” saja, sudah berubah memanggil dengan “Gus Mus”. Sementara itu saya sendiri semula masih mempertahankan panggilan “Mas Dur” terhadap Sampeyan; tapi akhirnya, entah mengapa, merasa tak enak sendiri dan —mengikuti orang-orang— memanggil Sampeyan “Gus Dur”. Pembicaraan antara kita pun sudah berubah, tidak pernah lagi fokus dan tuntas. Sejak itu saya sudah merasa mulai “ada jarak” antara kita. Kemudian Sampeyan menjadi semakin penting di negeri ini. Sampeyan menjadi pusat perhatian dan tumpuan banyak orang. Di mana-mana dielu-elukan. Saya ikut bangga, meski diam-diam saya merasa semakin kehilangan Sampeyan. Apalagi saat Sampeyan menjadi orang paling penting, menjadi presiden republik ini, saya benar-benar harus menerima “kepergian” Sampeyan. Sampeyan mestinya masih ingat, ketika para kiai –orang-orang pertama yang Sampeyan undang ke istana—menyampaikan selamat, saya sendiri menyampaikan “belasungkawa”. Waktu itu —masih ingat?— saya membisiki Sampeyan agar berhati-hati terhadap *bithaanah,* orang-orang yang pasti akan *ngrubung* Sampeyan untuk dijadikan “orang-orang dekat” Sampeyan (Menjadi ketua NU saja banyak yang *ngrubung,* apalagi presiden).

Bukan saya tidak percaya kepada Sampeyan, tapi saya melihat rata-rata mulai Firaun, Heraclius, hingga Soeharto, *bithaanah*-lah yang menjadi biang keladi kejatuhannya.

Gus Dur, mungkin Sampeyan akan mengatakan saya terlalu romantis, tapi
sungguh, saya sangat merindukan keakraban seperti dulu, di mana masing-masing kita masih hanya manusia-manusia yang tak terkalungi
atribut-atribut. Sampeyan bebas menegur saya dan saya tak merasa sungkan menegur Sampeyan. Karena keikhlasan lebih kuat dari pada rasa rikuh dan sungkan. Dan ternyata keikhlasan persahabat pun dapat dikalahkan oleh keperkasaan waktu. Sejak Sampeyan dikhianati oleh orang-orang yang dulu Sampeyan percayai mendukung Sampeyan (bahkan waktu saya peringatkan, Sampeyan malah menasehati agar saya jangan *su-uddzan* kepada orang) dan akhirnya melalui mereka, Allah membebaskan Sampeyan dari beban berat yang Sampeyan pikul sendirian, saya sebenarnya sudah berharap masa keakraban itu akan kembali.

Namun ternyata harapan itu justru terasa semakin jauh. Kini saya bahkan
seperti tak mengenali Sampeyan lagi. Mas Dur yang demokrat sejati, Mas Dur yang berpikiran jauh ke depan, Mas Dur yang tak peduli terhadap jabatan, Mas Dur yang mencintai sesama, Mas Dur yang begitu perhatian terhadap umat, Mas Dur yang terbuka, Mas Dur yang penuh pengertian, Mas Dur yang ngayomi, Mas Dur yang akrab dengan semua orang, Mas Dur yang menebarkan kasih-sayang, Mas Dur yang … Ke manakah gerangan sosok itu kini? Saya kini kok malah hanya melihat Gus Dur yang menguasai partai yang kacau. Gus Dur yang mengurusi urusan-urusan tetek-bengek yang tak ada sangkut pautnya dengan kepentingan
umat secara langsung. Gus Dur yang terus membuat sensasi politik yang tak jelas maksud tujuannya. Gus Dur yang membuat kubu-kubu dalam tubuh partainya sendiri. Gus Dur yang alergi terhadap kritik. Gus Dur yang dikelilingi pakturut-pakturut yang tak takut kepada Allah dan tak mempunyai belas kasihan kepada umat, Gus Dur yang tak lagi memperlakukan para kiai sebagai kawan-kawan bermusyawarah tapi membiarkan pakturut-pakturutnya memperlakukan mereka sekedar alat meraih kepentingan sepele, Gus Dur yang …

Maaf Gus Dur, mungkin saya memang sudah terjebak dalam romantisme kampungan. Tapi sungguh saya tidak mengerti. Kecuali pemikiran dan kegiatan-kegiatan luhur berskala makro Sampeyan, saya tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang Sampeyan lakukan sekarang dengan atau bagi partai Sampeyan, PKB, dan jam’iyah Sampeyan Nahdlatul Ulama. Apakah dalam hal ini, Sampeyan –seperti biasa— mempunyai maksud-maksud tersembunyi di balik langkah-langkah Sampeyan yang membingungkan umat? Misalnya apakah Sampeyan sedang melakukan semacam shock therapy untuk secara ekstrem menggiring warga menjauhi sikap kultus individu dan kehidupan politik. Artinya Sampeyan ingin mengatakan dengan bukti kasat mata kepada mereka bahwa kultus individu itu tidak sehat dan bahwa orang NU memang tak becus berpolitik?

Bagaimana pun, Gus Dur, kalau boleh, saya masih ingin kembali memanggil Sampeyan “Mas Dur”. Semoga Allah melindungi dan melimpahkan taufiq-hidayah-Nya kepada Sampeyan. Amin.

MacOs

Sunday, April 12th, 2009

appleBeberapa long week-end terakhir ini kami sekeluarga di rumah saja tidak pergi kemana-mana. Biasanya kalau tidak ke Ciater, kami ke Jogjogan di kawasan Cisarua Puncak. Kebetulan ada rumah milik keluarga besar saya di sana.

Pun week-end panjang kali ini. Kamis yang libur karena hari mencontreng, Jumat yang Paskah, dan Sabtu Minggu ini saya hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Insya Allah bukan karena bokek, tetapi lebih karena males bepergian saja. Apalagi mengingat kemacetan yang hampir pasti melanda kedua kawasan itu bila libur panjang. Yang kemudian saya lakukan sebagai perintang waktu adalah: oprek Hackintosh.

Sejak saya memakai Macbook dan merasa amat nyaman menggunakan laptop berbasis MacOs itu terbersit keinginan untuk menggunakan desktop berbasis MacOs pula. Hanya saja bila hal ini saya lakukan saya harus melakukan pengurasan besar-besaran di dompet saya. Dengan harga paling murah sekitar $1.299 (sekitar Rp 15 juta) isteri saya pasti akan meletupkan “Perang Dunia Ketiga” di rumah bila saya membelinya. Jadi yang paling mungkin saya lakukan adalah meng-install MacOs di pc saya.

Dan ternyata meng-install-nya tidaklah terlalu merepotkan. Ini pastinya karena hardware yang saya gunakan sudah compatible. Masalah yang saya temukan hanya ethernet onboard yang tidak dikenali. Masalah solved ketika saya pasang sebuah NIC bekas yang kebetulan ada di laci meja saya.

Mudah-mudahan operating-system ini stabil di pc saya.

Spesifikasi:
Motherboard: Asus P5GCMX
Processor: INTEL E2160 – Dual Core 1.8GHz – 800 MHz – 1Mb L2 – 64bit
RAM : 2 keping 1 GB & 0,5 GB Kingston
Distro: Kalyway.

Catatan: Yang membebani fikiran saya sedikit adalah faktor legalnya. The Apple software license does not allow Mac OS X to be used on hardware that is not “Apple-labeled”. The agreement refers to an “Apple-labeled” computer and not “Apple-manufactured’, so putting one of those Apple stickers that came with your iPod or something similar on your computer should also be enough to comply here. Fortunately I have 2 original stickers. I got them when I bought a MacBook some months ago. :)