Kata sementara orang ada perbedaan antara cita-cita dengan mimpi. Perbedaannya ada pada kemasuk-akalan keduanya. Bila masuk akal, itulah cita-cita. Bila tidak, sebut sajalah itu mimpi.
Salah satu mimpi saya adalah mengganti “si bongsor” (sebutan untuk Kia Carnival) dengan sebuah Toyota Alphard terbaru. Saya menyebutnya mimpi karena lewat hitung-hitungan normal dengan mengandalkan penghasilan kami berdua (isteri saya dan saya) tidaklah mungkin mobil seharga circa 800 juta rupiah itu dapat kami beli. Kecuali semua penghasilan kami ditabung dan kami sekeluarga tidak usah makan selama berbulan-bulan. Hal yang tentu saja mustahil.
Untuk “wara-wiri” ke sana ke mari saya ingin sekali memiliki sebuah city-car yang irit dan bisa diajak berlari-lari kecil di jalan toll. Sebuah Honda Jazz terbaru dengan kisaran harga >200 juta rupiah selalu menari-nari enerjik di pelupuk mata saya menggantikan Kia Sephia (baca: Timor) jadul yang sudah saya pakai sejak tahun 1997. Yang satu ini mungkin bukanlah mimpi, tetapi lebih kepada sebuah cita-cita; meski juga entah kapan terlaksananya.
Mimpi saya yang lain adalah memiliki sebuah Hasselblad H3D-39 Kit 70360570 untuk menggantikan Nikon D60 yang beberapa waktu ini saya gunakan untuk menyalurkan hasrat fotografi saya. Bagi yang (maaf) belum tahu, Hasselblad adalah merk kamera impian para penggila fotografi. Harganya lebih dari 298 juta rupiah. Buat kebanyakan orang memiliki sebuah kamera seharga demikian adalah perbuatan “gendeng” di saat ekonomi kian menjepit seperti sekarang ini.
Tapi, sekedar bermimpi tidak ada salahnya, bukan? Siapa tahu ada kerabat kerajaan Arab Saudi yang kebingungan menghabiskan uangnya membaca tulisan saya ini. Kemudian beliau mengutus orang membawakan benda-benda impian saya itu ke rumah saya di Bekasi.
Atau, ada seorang “secret admirer” cantik yang bingung menghabiskan uangnya menghubungi seraya manyatakan bahwa semua mimpi di atas akan segera terwujud asal saja saya mau memperisterinya (meski menjadi isteri kedua) … Hahahahaha!
(Fyi, it’s ok for my wife if I want to get married again, as long as the wife is so rich that she won’t disturb my financial condition.) {Ge-er mode ON}
Keep on dreaming, Ihsan !

Untuk antar jemput Zhilal dan Daffa ke sekolah atau mengaji, biasanya digunakan sebuah motor. Namun karena pertimbangan ini-itu motor yang dibeli bekas dari seorang teman beberapa bulan yang lalu itu dijual, dan sebagai gantinya hari ini sudah datang sebuah
Jika ada yang bertanya saya bekerja di mana saya akan menjawab bahwa saya seorang guru. Kadang saya tambahkan: “guru esde”. Ada yang percaya, ada yang tidak. Biar sajalah. Yang jelas faktanya saya memang seorang guru. Saya mengajar setiap hari. Dan saya tidak punya keahlian lain untuk mencari nafkah keluarga.


