Archive for January, 2009

Mimpi

Thursday, January 29th, 2009

dreamingKata sementara orang ada perbedaan antara cita-cita dengan mimpi. Perbedaannya ada pada kemasuk-akalan keduanya. Bila masuk akal, itulah cita-cita. Bila tidak, sebut sajalah itu mimpi.

Salah satu mimpi saya adalah mengganti “si bongsor” (sebutan untuk Kia Carnival) dengan sebuah Toyota Alphard terbaru. Saya menyebutnya mimpi karena lewat hitung-hitungan normal dengan mengandalkan penghasilan kami berdua (isteri saya dan saya) tidaklah mungkin mobil seharga circa 800 juta rupiah itu dapat kami beli. Kecuali semua penghasilan kami ditabung dan kami sekeluarga tidak usah makan selama berbulan-bulan. Hal yang tentu saja mustahil.

Untuk “wara-wiri” ke sana ke mari saya ingin sekali memiliki sebuah city-car yang irit dan bisa diajak berlari-lari kecil di jalan toll. Sebuah Honda Jazz terbaru dengan kisaran harga >200 juta rupiah selalu menari-nari enerjik di pelupuk mata saya menggantikan Kia Sephia (baca: Timor) jadul yang sudah saya pakai sejak tahun 1997. Yang satu ini mungkin bukanlah mimpi, tetapi lebih kepada sebuah cita-cita; meski juga entah kapan terlaksananya.

Mimpi saya yang lain adalah memiliki sebuah Hasselblad H3D-39 Kit 70360570 untuk menggantikan Nikon D60 yang beberapa waktu ini saya gunakan untuk menyalurkan hasrat fotografi saya. Bagi yang (maaf) belum tahu, Hasselblad adalah merk kamera impian para penggila fotografi. Harganya lebih dari 298 juta rupiah. Buat kebanyakan orang memiliki sebuah kamera seharga demikian adalah perbuatan “gendeng” di saat ekonomi kian menjepit seperti sekarang ini.

Tapi, sekedar bermimpi tidak ada salahnya, bukan? Siapa tahu ada kerabat kerajaan Arab Saudi yang kebingungan menghabiskan uangnya membaca tulisan saya ini. Kemudian beliau mengutus orang membawakan benda-benda impian saya itu ke rumah saya di Bekasi.

Atau, ada seorang “secret admirer” cantik yang bingung menghabiskan uangnya menghubungi seraya manyatakan bahwa semua mimpi di atas akan segera terwujud asal saja saya mau memperisterinya (meski menjadi isteri kedua) … Hahahahaha!
(Fyi, it’s ok for my wife if I want to get married again, as long as the wife is so rich that she won’t disturb my financial condition.) {Ge-er mode ON} ;)

Keep on dreaming, Ihsan !

Al Athlal

Friday, January 23rd, 2009

Ummi Kultsum adalah sebuah nama melegenda dalam dunia musik Arab. Kalangan santri satu-dua generasi yang lalu pasti hafal, setidaknya bisa menggumamkan salah satu lagunya. Ghonnily suwaya suwaya, misalnya. Saya sendiri suka Al Athlal. “Al Athlal” (puing-puing) adalah salah satu nyanyian Ummi Kultsum yang diperdengarkan pada saat perjanjian Camp David, yang menandai berakhirnya perang Mesir dan Israel, beberapa belas tahun silam. Ini syairnya:
atlal

Tulisan saya yang lain tentang Ummi Kulthum (oum Kulthum) bisa diklik di sini: http://desa32.com/wordpress/?p=203

English

Friday, January 23rd, 2009

Haree genee tidak mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggeris merupakan masalah. Karena terlalu ingin bisa, berikut kutipan isi surat seseorang kepada kekasihnya, yang dengan amat dipaksakan ditulis dalam bahasa Inggeris.

“HI JOHN, I WANT TO CUT CONNECTION US.”
Hi John, saya mau memutuskan hubungan kita.

“I HAVE THINK THIS COOK2.”
Saya sudah memikirkan ini masak-masak.

“U CORRECT2 MAN CROCODILE LAND.”
Kamu benar-benar buaya darat.

“MY FRIEND SPEAK U PLAY FIRE.”
Teman saya bilang kamu bermain api.

“I DON’T WANT TO SICK MY LIVER 2 TIMES .”
Saya tidak mau menyakiti hati saya untuk kedua kalinya.

“THIS RIVER I FORGIVE U, NEXT RIVER I KILL U.”
Kali ini saya memaafkan kamu. Lain kali saya bunuh kamu.

“FROM YOUR FRUIT LIVER, INEM”.
Dari buah hatimu, Inem.

Hehehe ..

Blade

Tuesday, January 20th, 2009

bladeUntuk antar jemput Zhilal dan Daffa ke sekolah atau mengaji, biasanya digunakan sebuah motor. Namun karena pertimbangan ini-itu motor yang dibeli bekas dari seorang teman beberapa bulan yang lalu itu dijual, dan sebagai gantinya hari ini sudah datang sebuah Honda Blade baru yang kami beli hari Minggu yang lalu. Motor yang di banyak dealer dihargai sekitar Rp. 13,5 juta itu alhamdulillah bisa kami perolah dengan harga Rp 13 juta 85 ribu saja on the road. Lebih mahal sedikit dibanding MacBook yang beberapa waktu yang lalu sukses membuat credit-card saya tergesek. :)

Saya jadi teringat pertama kali saya dibelikan motor oleh Allahyarham Abi adalah awal tahun 1978. Sebuah Honda Bebek yang saat itu betul-betul sedang mode. Saya merasakan rasa suka yang amat sangat, karena tentu saja menurut ukuran waktu itu belumlah lengkap seorang anak muda tanpa sepeda motor. Sekira setahun kemudian motor itu beralih “pemilik” ke almarhum adik saya: H A Zufar, karena saya dibelikan sebuah mobil: Daihatsu Hijet 55 Wide. Ini adalah mobil pertama saya, sebuah mobil dengan kapasitas mesin sangat kecil (550 cc) yang membuat saya selalu menarik nafas manakala membawanya ke kawasan Puncak.

Rentang waktu yang panjang, yang semestinya mengingatkan saya bahwa saya sudah semakin tua .. :)

Guru

Tuesday, January 6th, 2009

Jika ada yang bertanya saya bekerja di mana saya akan menjawab bahwa saya seorang guru. Kadang saya tambahkan: “guru esde”. Ada yang percaya, ada yang tidak. Biar sajalah. Yang jelas faktanya saya memang seorang guru. Saya mengajar setiap hari. Dan saya tidak punya keahlian lain untuk mencari nafkah keluarga.

Saya hafal benar dengan cerita-cerita idealistis dunia guru. Pahlawan tanpa tanda jasa. Terseok-seok meniti hidup karena rendahnya pendapatan namun tetap tegar dengan tugas dan tanggung jawab. Dan sebagainya. Saya faham benar cerita-cerita seperti itu. Karena saya memang mengalaminya. Selama puluhan tahun!

Saya merasa amat perlu berterimakasih kepada isteri saya. Rezekinya senantiasa menopang biduk rumah tangga kami supaya tidak tenggelam dihajar ombak. Ketika iseng-iseng kami membandingkan buku tabungan milik kami, dan angka pada buku tabungannya mempunyai digit yang lebih banyak, saya cuma menambah rasa syukur saya. Meski simpanan saya tidak banyak, lumayanlah jika ditambahkan dengan saldo tabungannya. Meski juga tidak amat banyak cukuplah kiranya menenangkan hati kami menelusuri hidup yang sangat keras dan kejam ini.

Dan ada lagi yang senantiasa menenangkan hati saya di saat kegalauan hidup seolah meluluh-lantakkan badan saya. Sebuah ucapan Sayyidina Ali RA:

“Ana ‘abdu man ‘allamani harfan, in sya`a ba’a, wa in sya`a a’taqa wa in sya’a istaqarra”

“Saya adalah hamba orang yang pernah mengajarkan satu huruf kepada saya. Apabila ia mau ia boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap memperbudakku.”

Begitulah kedudukan seorang guru di mata Sayyidina Ali, seorang Hamba Allah amat mulia yang telah dijamin masuk Surga oleh Rosululloh.

Tulisan saya yang lain, dengan judul sama, bisa dibaca di sini.