Setelah menahan sabar 2 bulan lebih sejak mata melototin kamera-kamera DSLR di London tempohari tampaknya nafsu sudah menggelegak untuk segera “mengeksekusi” si kamera, menggantikan Olympus C760UZ yang setia menemani saya sekitar 4 tahun belakangan ini. Kebetulan alhamdulillah rezeki sudah datang lagi. Cuma demi menjaga stabilitas keamanan dan mencegah perang dunia ketiga di Desa32, bujet yang saya siapkan harus berkompromi dengan sang nyonya-besar. Pilihan mengarah ke Canon 400D plus lensa telenya.
Tetapi si Nikon juga menggeliat-geliat di pelupuk mata nih. Mungkin ambil yang D40X yang harganya lebih mahal. Sang nyonya besar tentu saja kembali “memanyunkan” wajahnya mendengar ide ini. Cuma, sebodo ah. Kaum suami harus bangkit melawan ketidaksetujuan kaum isteri dalam dunia “gajet-mengajet”.
(Sambil mengepalkan tinju ke atas.) Merdeka!!! Hehehehe ..
Minggu, 31 Agustus 2008, dengan semangat 45 ditemani Hirzi dan Zhilal mulailah saya hunting kamera idaman di kawasan Manggadua. Target utama Canon 1000D ternyata tidak berhasil didapati di semua toko yang disambangi. Kalau tetap ngebet ingin membelinya saya harus inden dengan waktu yang tidak terbatas, padahal saya tidak pernah suka membeli sesuatu tetapi harus menunggu untuk mendapatkannya. Akhirnya dengan mengandalkan feeling sepenuhnya, karena review yang saya baca di internet malah membuat saya bingung (saking newbie-nya), saya memilih Nikon D60. Syukurlah, camera yang sudah dilengkapi dengan lensa 18 ~ 200 mm dan dihargai hampir 14 juta rupiah itu bisa saya dapati dengan harga lebih murah.
Setibanya di rumah isteri saya menyambut dengan senyum kecil sambil bertanya agak ketus: “Habis ini kepengen apa lagi ..?”
Hehehe .. Apalagi ya ?
Welcome home, Nikon D60.
Ctt: Manyun (dialek betawi)= cemberut.
Gajet-mengajet = plesetan dari kata “Gadget”.