Archive for July, 2008

30 Juli 2008

Wednesday, July 30th, 2008

Luar biasa!!

Hari lahir saya tahun ini dirayakan lumayan istimewa. Anak-anak di sekolah diliburkan. Isteri saya yang biasanya pontang-panting di kantor hari ini pun memutuskan tidak akan ke kantor. Bukan cuma itu. Hampir semua pekerja hari ini memutuskan diri untuk tidak bekerja.

Hehehe … tentu saja. ;)

Hari kelahiran saya tahun ini bertepatan dengan libur nasional Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Besar Muhammad SAW. Mohon doakan saya ya!

ALLOHUMMA YA ALLAH,

Hari ini hamba berkumpul dalam kehusukan dan keihlasan
di hadapan hamparan rezekiMu…

ALLOHUMMA YA ALLAH,
Kau ciptakan hamba dari tiada, menjadi ada…
Kemudian Kau kembalikan hamba kepadaMu,…

Kehidupan hamba berjalan dan berputar sesuai dengan kehendakMu

ALLOHUMMA YA ALLAH,

Hari ini telah sampai usia hamba dalam kedewasaan. Jadikanlah hamba menjadi khusuk dan tawaduk dalam menerimah hikmah dan berkahMu.
Bertambah usia dalam hitungan hamba, kerkurang pula usia hamba dalam hitunganMu..

ALLOHUMMA YA ALLAH,
Panjangkanlah usia hamba agar hamba dapat hidup dan menjadi bermanfaat bagi ummatMu yang lain
Panjangkanlah usia hamba agar hamba dapat lebih memandang hidup dengan penuh makna dalam kebesaranMu.
Panjangkanlah usia hamba agar hamba dapat membesarkan anak-anak hamba untuk dapat tunduk dan berbakti kepadaMu.

Panjangkanlah usia hamba agar hamba dapat lebih bersyukur atas nikmat dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepada hamba.

Jadikanlah hamba orang yang senantiasa bersyukur terhadap rezeki dan anugrah yang Engkau berikan

ALLOHUMMA YA ALLAH,
Terimakasih Engkau telah mengangkat hamba menjadi makhluk dengan derajat yang tinggi
Terimakasih Engkau telah memberikan cahaya keimanan kepada hamba agar hamba dapat mengenalMu,

Terimakasih ya ALLAH!

Ctt: Copy-paste dari sebuah blog dengan modifikasi di sana-sini.

Muahhhilll

Friday, July 25th, 2008

Saya sering menggunakan kata “muahil” untuk mengungkapkan sesuatu yang terlalu mahal menurut ukuran saya. Dan dua minggu di Inggeris di awal bulan Juni 2008 kemarin adalah suatu pengalaman di mana mulut amat sering meluncurkan kata “muahil” itu.

Angka yang tertulis di bandrol memang kecil, sering-sering tidak lebih besar dari 10. Tetapi karena mata uang mereka berharga lebih dari Rp 18.000 rupiah setiap Pound-nya maka bersiaplah mengalikannya dengan angka kurs itu. Hasilnya boleh jadi menyesakkan dada.

Air mineral harganya 1,5 di kedai pinggir jalan. Ini artinya sekitar 30.000 rupiah. Bayangkan: 30 ribu untuk sebotol air! Di Jakarta air mineral 600 ml biasanya cuma dijajakan tidak sampai Rp. 2.500.

Kalau anda kepingin masuk ke Windsor Castle, anda harus mengeluarkan uang sebesar 14,80 Pound, hampir Rp. 300.000 per orang. Dan di Edinburgh Castle saya langsung balik kanan melihat tarif masuknya: 15,95 pound. Cukuplah wara-wiri di bagian luar kedua kastil yang cantik ini kalau cuma untuk berfoto dan mengagumi arsitekturnya.

Hal mirip terjadi ketika saya berkunjung ke Old Trafford Manchester. Setelah puas melihat-lihat Megastore klub sepakbola kondang sejagat Manchester United, dan harus seringkali menarik nafas panjang melihat bandrol yang tertera di tiap merchandise, kami bertiga makan di sebuah restoran Fish And Chips di dekat stadion. Seketika melihat harga-harga di dafter menu saya langsung senyum kecut. Muahhill! Kalau di Jakarta saya sudah langsung kabur. Tetapi karena ini di UK harus ada “dignity” lah sedikit. Apalagi waktu itu baru hari ketiga di sana, sehingga persediaan fulus masih lumayan. Setelah makan yang syukurnya sangat uennaakk “damage cost” yang harus dikeluarkan sebesar 40 pound. Ini artinya mendekati Rp. 800.000 untuk bertiga. Buat seorang guru seperti saya (if you know what I mean) angka ini lumayan fantastis. Mungkin di tempat lain ada makanan sejenis yang lebih murah, tetapi sedemikianlah jumlah yang harus dibayarkan ke restoran itu.

“Siapa suruh datang ke Inggeris?”, begitu saya meledek isteri saya, memplesetkan lagu Koesplus jadul.

Cuma khusus untuk Madame Tussaud isteri saya wanti-wanti untuk masuk meski tiketnya 25 Pound perorang. Alasannya sederhana sekali: “Saya kepingin foto bareng sama Lady Di ..”. Oallaa!!

Meskipun demikian ada juga momen yang “menggairahkan” ketika isteri saya berhasil menemukan sebuah jas di Marks & Spencer yang semula berharga 90 pound (sekitar Rp 1,7 juta) cukup dibayar dengan harga 18,99 pound (sekitar Rp . 350.000) saja. Juga ketika di bagian lain kami menemukan “massive clearance sale” produk sepatu Clark, yang membuat saya untuk pertama kalinya selama hidup membeli sepatu 3 pasang sekaligus, karena harga 3 pasang jauh lebih murah dari harga sepasang.

Dan rupanya Inggeris memang bukan tempat yang nyaman untuk orang berkantong pas-pasan seperti saya. Meski bukan pada urutan pertama London adalah kota termahal ketiga di dunia setelah Moscow dan Tokyo. Demikian hasil survei Mercer Worldwide tentang biaya hidup kota besar 2008 yang bisa anda klik: di sini.

Ee 2

Thursday, July 17th, 2008

Dalam pandangan saya EeePc bukanlah laptop utama buat menopang pekerjaan. Dia diperlukan pada saat kebutuhan terhadap laptop harus “beradu” dengan pertimbangan kepraktisan, saat di mana laptop biasa masih terasa berat dan memakan tempat. Saat itulah Eeepc diperlukan.

Karena itu ketika membelinya beberapa hari lalu saya bimbang memilih yang mana. Tetapi akhirnya saya memilih yang paling murah saja (2 GB / 2,6 jt) dengan pertimbangan sebagai berikut:

  • Saya tidak memerlukan kinerja komputing yang berat. Cuma buat ngetik, browsing, dan emailing. Jadi Ram 512 MB saya anggap cukup.
  • Kapastias penyimpanan yang cuma 2 GB dapat diatasi dengan menambahkan MMC/SD yang harganya lumayan murah (4 GB sekitar 180 rb), dan/atau mencolokkan flashdisk. Bila diperlukan data yang sangat besar (saya yakin ini akan jarang sekali terjadi) saya bisa menggunakan HDD Enclosure yang kebetulan ada.
  • Saya tidak memerlukan webcam. Seandainya diperlukan kebetulan sudah punya.
  • Dan INI yang paling dominan: isi dompet saya sangat kritikal dg harga. :)

Ee

Monday, July 14th, 2008

Saya menyebutnya “Ee”, seperti ucapan anak kecil bila ingin bab. Tentu tidak ada hubungan sama sekali dengan wc, karena yang saya maksudkan adalah “Eee Pc” sebuah produk laptop mini dari ASUS. Mungkin cuma satu hal yang membuat saya enteng saja menggesek kartu kredit untuk mendapatkannya: “racun” itu begitu enteng untuk dibawa ke mana-mana. (“Racun” adalah sebutan isteri saya untuk segala macam gadget yang menggerogoti kantong saya). Bobotnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan laptop Hewlett-Packard yang selama ini menemani saya.

Lantas apakah saya akan berpamitan dengan si HP itu? Tampaknya tidak. Si Ee hanya cocok saya bawa bila saya benar-benar memerlukan mobilitas yang relatif tinggi. Saya masih merasa memerlukan laptop yang sedikit agak lebih besar dalm banyak keadaan.

So, welcome to the family, EeePc.

Omah

Sunday, July 13th, 2008

Dalam bahasa Jawa kata “Omah” berarti rumah. Namun pengertiannya lebih kepada makna “home” bukan “house”. Ada banyak referensi mengenai perbedaan keduanya, di antaranya: ‘It’s not a house, it’s a home”, kata Bob Dylan. Intinya bila “house” bermakna rumah secara fisik saja, “home” adalah apapun yang kita gunakan sebagai tempat tinggal di mana kita bisa merasa sangat nyaman menempatinya.

Dalam kultur Jawa seseorang baru bisa dianggap paripurna jika ia sudah memiliki lima unsur simbolik: curiga, turangga, wisma, wanita, dan kukila. Bila “curiga” adalah keris / senjata, “turangga” adalah kuda / kendaraan, “wanita” adalah isteri, “kukila” adalah burung (yang diartikan sebagai kemampuan memahami, menikmati dan menguasai seni), maka “wisma” adalah rumah. Singkatnya, anda belum boleh merasa sebagai manusia seutuhnya bila belum memiliki rumah. (Lebih lanjut klik: DI SINI. )

Setahun setelah saya menikah (1986) saya mohon izin abi (ayahanda saya) untuk mencicil sebuah rumah dengan fasilitas kredit BTN. Lokasinya ada “di ujung dunia” dan baru lunas 15 tahun kemudian. Saya (dan isteri saya) tidak mampu mencicil rumah di dalam kota dan dengan jangka waktu cicilan yang lebih singkat dari itu. Jawaban yang saya peroleh jauh di luar dugaan saya. Saya malah diminta memilih satu di antara beberapa lokasi lahan yang jauh-jauh hari rupanya sudah disiapkan Allahyarham buat tempat tinggal anak-anaknya.

“Insya Allah di tanah itu abi akan buatkan rumah buat Ihsan.”, begitu kata-kata yang senantiasa terngiang di telinga saya.

Ahirnya saya memang tidak perlu bersusah payah membayar cicilan dalam kurun waktu amat panjang untuk sebuah “wisma” yang (dalam budaya Jawa di atas) merupakan sebagian dari ukuran keparipurnaan saya sebagai manusia. Sebuah “omah” di Jalan Dewi Sartika Bekasi yang kemudian berkembang menjadi sebuah gedung berlantai dua dengan 6 buah kamar tidur, 3 kamar mandi, dan 1 kamar pembantu. Sebuah bangunan yang saya tinggali bersama dengan anak-anak dan isteri saya yang awal berdirinya dahulu sepenuh-penuhnya dibuatkan oleh ayahanda saya. Sebuah bukti kasih-sayang orangtua yang tak ada habis-habisnya.

Dan .. ini yang tidak kalah pentingnya: sebuah “hutang” yang harus saya bayar dengan cara: menyediakan rumah untuk anak-anak saya kelak. Insya Allah!

Terimakasih, Abi, untuk segala-galanya dalam kehidupan saya ini. Terimakasih.