Archive for June, 2008

I don’t like football, but this is “EMYU”, maaan ..

Tuesday, June 24th, 2008

Ketika mengunjungi Manchester pada kesempatan ke Inggris beberapa waktu yang lalu yang terlintas pertama kali dalam fikiran tentu saja adalah Old Trafford dan Manchester United, sebuah klub sepakbola yang “digilai” Hirzi, anak sulung saya. Saya sendiri tidak terlalu suka menonton bola, bahkan cenderung tidak mampu menemukan di mana nikmatnya melihat sebuah bola diperebutkan segitu banyak orang. ;)

Ditemani Ilo, seorang keponakan yang sudah belasan tahun tinggal di Inggeris dan “nekad” mengambil cuti selama 2 minggu khusus untuk menemani kami selama di Inggeris (thanks alot, Lo!), saya dan isteri menggunakan Virgin Trains dari London Euston. Turun di stasiun kereta api Manchester Piccadily, kami berjalan kaki ke stasiun bis Piccadilly Gardens dalam cuaca yang lumayan dingin meski summer sudah masuk. Dari sana kami menaiki bis ke Old Trafford. And .. here we are .. sebuah stadion yang barangkali menjadi “a must visit” bagi semua penggila MU di kolong langit.

Manchester United didirikan sebagai Newton Heath LYR F.C. pada tahun 1878 sebagai sebuah tim sepak bola depot Perusahaan Kereta Api Lancashire dan Yorkshire Railway di Newton Heath. Baru pada tahun 1902 namanya berganti menjadi Manchester United. Meski namanya harum sebagai sebuah klub terkenal di Inggeris, bintang-cemerlangnya mulai muncul ketika klub ini diasuh Sir Alex Ferguson. Sejak bergulirnya era Premiership di tahun 1992, Manchester United adalah tim yang paling sukses dengan delapan kali merebut tropi juara.

MU menjadi salah satu klub paling sukses di Inggris. Sejak musim 86-87, mereka telah meraih 20 trofi besar – jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara klub-klub Liga Utama Inggeris. Mereka telah memenangi 17 trofi juara Liga Utama Inggris. Pada tahun 1968 mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil memenangi Liga Champions Eropa setelah mengalahkan S.L. Benfica 4–1, dan mereka memenangi Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya pada tahun 1999. Dan tidak ada satu orangpun penggemar fanatik MU yang melupakan saat-saat manis ketika MU mengalahkan Chelsea di Moskow beberapa waktu yang lalu, untuk sekali lagi merebut Liga Champion tahun 2008 ini. Saat ini pemilik club sepakbola fenomenal ini adalah Malcolm Glazer yang pada tanggal 12 Mei 2005 membeli mayoritas saham yang bernilai £800 juta (US$1,47 milyar).
(sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Manchester_United_F.C.)

Supaya “adil” (karena anak saya yang lain menyukai Chelsea FC) saya juga berkesempatan mengunjungi Chelsea FC dan Liverpool FC, yang mudah-mudahan pengalamannya dapat saya tuliskan lain waktu.

Edinburgh 2

Saturday, June 7th, 2008

Setelah 2 hari putar-putar kota, hari ini jam 14:15 waktu setempat saya meninggalkan Edinburgh. Kesan saya, layaknya kota-kota besar di Eropa, Edinburgh adalah kota yang sangat bersih, penduduk yang ramah, bangunan kuno di sana-sini, dan saya merasa aman di sana. Rasa aman ini tidak saya rasakan bila saya berada di suatu daerah asing di Indonesia. Meski ramah, saya membatasi diri berbincang dengan penduduk setempat karena dialek Inggerisnya amat menyusahkan kuping saya yang cenderung terbiasa dengan American English. Seorang bapak tua yang menyapa saya ketika saya sedang duduk beristirahat di depan Information Center benar-benar membuat saya harus “belajar bahasa Inggeris lagi”.

Sekarang saya berada di atas kereta NationalExpress menuju London. Perjalanan insya Allah memakan waktu 4 jam. Di atas kereta selain menikmati alam sekitarnya yang bercuaca sangat cerah saya chatting dengan anak-anak di rumah. Sebenarnya saya juga bisa bercakap-cakap dengan menggunakan Skype, tetapi saya memilih chatting saja karena suara anak-anak membuat saya homesick.

Edinburgh adalah ibukota Skotlandia dan merupakan kota terbesar kedua. Penduduk kota ini (sensus tahun 2002) berjumlah 450.000 jiwa. Bangunan-bangunan yang menyebar di kota ini pada umumnya adalah bangunan kuno yang sangat artistik. Orang tidak boleh sembarangan mengubahnya karena termasuk Situs Warisan Dunia Unesco.

Salah satu bangunan tua dan objek wisata utama kota ini adalah Edinburgh Castle yang dibangun oleh Michael Canmore (1057-1093). Dari apartemen saya menginap lokasi kastel ini cukup dekat. Jadi saya berjalan kaki saja ke sana, sambil menyusuri Royal Mile yang terkenal itu. Royal Mile barangkali adalah jalan tertua di Edinburgh, menghubungkan Edinburgh Castle dengan the Palace of Holyrood House. Ada sangat banyak bangunan istimewa di kedua sisi jalan ini. Mungkin tidak ada seorang pun wisatawan yang tidak menjejakinya sewaktu mengunjungi Edinburgh.

Melintasi jalan-jalan di kota ini seperti kita terbang dengan mesin waktu ke tahun 1700 an. Semua bangunan yang saya lewati merupakan gambaran kebesaran arsitektur Eropa. Meski langkah sudah mulai tertatih letih karena panjangnya rute yang harus dijejaki, pengalaman 2 hari di kota tempat si Penemu Telpon Graham Bell dilahirkan ini merupakan sebuah pengalaman manis yang mudah-mudahan bisa terulang di lain waktu. Cul Edinburgh ..

Edinburgh

Saturday, June 7th, 2008

Kereta api yang membawa saya dari York tiba di Edinburgh. Saya (beserta isteri dan Ilo) segera menjejak keluar, dan …. brrrrrrrr … suhu di sekitar 10 derajat celcius segera menyambut membuat gigi bergemelutuk dan dingin menusuk-nusuk tulang. Suhu sedemikian tentu saja bukan masalah bagi penduduk setempat, tetapi kehangatan di dalam kereta yang langsung berubah dingin sesaat saya menjejak tanah membuat tiga lapis pakaian yang saya pakai tak mampu menghilangkan rasa dingin. Untunglah antrian taxi tidak terlalu panjang dan kami langsung menuju apartemen yang sudah dipesan beberapa hari yang lalu.

Apartemen yang terletak di St Mary’s Street itu ada di lantai dua. Ada 5 ruangan: 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Sangat nyaman untuk ditempati.

Setelah sedikit meluruskan kaki, dan badan sudah mulai menyesuaikan diri dengan suhu yang amat dingin, kami keluar melihat suasana di sekitar apartemen. Tujuan utama mencari “halal food” yang ternyata terletak sangat dekat. Perjalanan dilanjutkan ke sebuah supermarket membeli beberapa keperluan mengisi perut. Angin yang berhembus kuat dan sangat dingin karena datang dari arah kutub utara membuat kami tidak terlalu berlama-lama di luar. Kami kembali ke apartement, dan tidur dengan sangat nyenyak dalam kehangatan karena pemanas ruang di-set maksimal .

Manchester – York – Edinburgh

Friday, June 6th, 2008

Setelah dua hari di Manchester dijamu keluarga mas Dono dan mbak Luci (terimakasih banyak), hari ini saya melanjutkan perjalanan menuju Edinburgh. Dari stasiun kereta api Manchester Piccadilly saya (bersama Ilo dan isteri saya) ke York terlebih dahulu. Putar-putar kota sampai jam 4 sore, perjalanan dilanjutkan ke Edinburg. KA sempat delay 30 menit, sesuatu yang amat sangat jarang terjadi di Inggeris. Dan sekarang saya sedang mengetik dari KA yang sedang melaju cepat  meninggalkan York menuju Edinburgh.

Mengunjungi Manchester tanpa datang ke markas MU tentu saja kurang afdhol. Tentang MU ini rencananya saya akan menulis posting sendiri, karena aura sepakbola terasa sangat “menyengat” di sana.

Saya sholat Asar di rumah pak Shufi dan bu Salina, keluarga muslim dari Malaysia yang menyambut kami dengan amat hangat. Terimakasih juga untuk santapannya. Bahkan kami di antar ke rumah mas Dono dan mbak Lusi di Cheadle Hulme, bagian selatan Manchester; perjalanan yang cukup panjang karena beliau berdua tinggal di bagian utara Manchester.

Bluewater here I am

Monday, June 2nd, 2008

Bagi yang suka mengunjungi pusat-pusat belanja di Jakarta, Bluewater bukanlah hal yang istimewa. Letaknya agak sedikit keluar kota London. Kalau sekiranya anda mau ke sini, silakan klik link ini. Buat saya Bluewater cumalah sebuah kegiatan “cuci-mata” setelah sepanjang waktu disuguhi bangunan-bangunan antik di seantero London. Suasana yang lain saya rasakan ketika beberapa hari kemudian saya mengunjungi IKEA, sebuah toko amat besar yang menjual segala pernak-pernik kebutuhan rumah.

Tapi lain halnya dengan bekas-pacar saya. Segera setelah memasuki bangunan pusat-perbelanjaan ini matanya seketika berubah menjadi “hijau”, dan “nafsu-membeli” segera muncul menyala-nyala di dalam benaknya. Jadi trik lama terpaksa dilakukan lagi: bersama dengan Rani dan anak-anak “sang nyonya besar” memisahkan diri dari saya dan Ilo. Tujuannya jelas agar langkahnya tidak sedikitpun terganggu oleh wajah malas saya mengiringinya memasuki toko demi toko, yang ujungnya sudah sangat jelas: menguras kantong.

Tentang isinya tak banyak yang dapat saya ceritakan. Anda kunjungi sajalah Senayan City di Jakarta, atau pusat-pusat perbelanjaan di sepanjang Orchard Road Singapore, seperti itulah kira-kira. Saya sendiri cuma lihat-lihat beberapa produk baru di Apple Store sekedar membandingkan dengan harga di Indonesia, dan cuci-mata lagi dalam bentuk lain (looking at the girls wearing “summer-clothes”).