Archive for January, 2008

How to be a Successful Husband by Muhammad Alshareef

Friday, January 18th, 2008

This is a copy-paste article.

1. Dress up for your wife, look clean and smell good.
When was the last time we went shopping for designer pajamas? Just like the husband wants his wife to look nice for him, she also wants her husband to dress up for her too. Remember that Rasulullah (saw) would always start with Miswak when returning home and always loved the sweetest smells.

2. Use the cutest names for your wife. Rasulullah (saw) had nicknames for his wives, ones that they loved. Call your wife by the most beloved names to her, and avoid using names that hurt her feelings.

3. Don’t treat her like a fly.
We never think about a fly in our daily lives until it ‘bugs’ us. Similarly, a wife will do well all day – which brings no attention from the husband – until she does something to bug’ him. Don’t treat her like this; recognize all the good that she does and focus on that.

4. If you see wrong from your wife, try being silent and do not comment!
This is one of the ways Rasulullah (saw) used when he would see something inappropriate from his wives (ra). It’s a technique that few Muslim men have mastered.

5. Smile at your wife whenever you see her and embrace her often.
Smiling is Sadaqah and your wife is not exempt from the Muslim Ummah. Imagine life with her constantly seeing you smiling. Remember also those Ahadith when Rasulullah (saw) would kiss his wife before leaving for Sholat, even if he was fasting.

6. Thank her for all that she does for you.
Then thank her again! Take, for example, a dinner at your house. She makes the food, cleans the home, and a dozen other tasks to prepare. And sometimes the only acknowledgement she receives is that there needed to be more salt in the soup. Don’t let that be; thank her!

7. Ask her to write down the last ten things you did for her that made her happy.
Then go and do them again. It may be hard to recognize what gives your wife pleasure. You don’t have to play a guessing game, ask her and work on repeating those times in your life.

8. Don’t belittle her desires. Comfort her.
Sometimes the men may look down upon the requests of their wives. Rasulullah (saw) set the example for us in an incident when Safiyyah (ra) was crying because, as she said, he had put her on a slow camel. He wiped her tears, comforted her, and brought her the camel.

9. Be humorous and Play games with your wife.
Look at how Rasulullah (saw) would race his wife A’ishah (ra) in the desert. When was the last time we did something like that?

10. Always remember the words of Allah’s Messenger (saw), “The best of you are those who treat their families the best. And I am the best amongst you to my family.” Try to be the best! In conclusion: Never forget to make Dua to Allah Ta’ala to make your marriage successful.

And Allah ta’ala knows best.

Bioskop dan AAC

Thursday, January 17th, 2008

aac_flm.jpgSaya sudah lama sekali tidak masuk ke dalam bioskop manapun untuk nonton film. Terakhir seingat saya waktu anak saya yang pertama, Hirzi, baru berumur sekitar 4 tahun. Judul filmnya lupa. Tetapi saya ingat betul yang memainkannya Warkop, di bioskop Rama Bekasi yang sekarang sudah bangkrut. Waktu itu saya terpaksa harus pulang padahal film baru saja mulai, karena Hirzi menangis keras sekali pas ketika lampu dimatikan dan saya tidak bisa menghentikan tangisnya. Sejak itu entah mengapa saya tidak pernah lagi nonton film di bioskop. Bila ada film bagus biasanya saya membeli atau menyewa DVD-nya dan menontonnya di rumah.

Sebuah rentang waktu yang amat panjang, belasan tahun. Saat ini Hirzi kecil sudah akan menyelesaikan pendidikan S1-nya. Insya Allah.

Tetapi ketika saya mengetahui bahwa novel Ayat Ayat Cinta akan difilmkan, sebuah keputusan bulat saya buat: saya akan menonton film lagi di bioskop. Dan film itu adalah Ayat-ayat Cinta yang disutradari oleh Hanung Bramantio.

Keinginan itu menjadi kian bulat manakala saya membaca blog Hanung yang bercerita tentang kesulitan-kesulitan yang tiada henti sewaktu membuat film itu. Saya akan mengapresiasikannya dengan menontonnya, seperti apapun film itu nantinya.

Insya Allah.

Ayat-ayat Cinta

Monday, January 14th, 2008

aac.jpgSaya menyesali kebodohan dan kedunguan saya selama ini. Sudah sejak lebih dari setahun lalu saya mendengar dan membaca kemunculan sebuah novel fenomenal karangan Habiburrahman “Kang Abik” Saerozi ini, namun karena kesibukan ini itu saya masih juga belum sempat membacanya. Dua minggu liburan semester satu ini saya niatkan untuk membacanya. Lagi-lagi niat itu tidak kesampaian sampai kemudian Sabtu kemarin saya memaksakan diri untuk membacanya. Itu pun dengan cara yang kurang baik: saya mendownloadnya dari sebuah situs, bukan membeli bukunya. Maafkan saya, kang Abik!

Maka saya menghabiskan malam Minggu sepenuhnya untuk membacanya sampai habis, nyaris tanpa berhenti.

Dan saya memang harus ikhlas mengakui bahwa saya amat cengeng membaca novel yang amat memikat itu. Luapan pencerahannya saya rasakan mengalir dari tiap halamannya. Keteguhan hati Fahri, cinta tulus Aisha, Maria, Nurul dan Noura; itu barangkali tema sentral yang saya dapati. Sebuah keteguhan dan cinta yang rasanya cuma ada di dunia fiksi, yang karenanya dapat menjadi contoh pencerahan buat kehidupan nyata.

Air mata saya mengalir di hampir semua bagian novel ini, lebih-lebih di bagian akhir: ketika Fahri membaca lembar demi lembar diary Maria yang mengungkapkan cintanya yang sedemikian besar kepadanya, ketika Aisha dengan keikhlasan hatinya mengizinkan Fahri untuk menikahi Maria, dan ketika pada akhirnya Fahri bebas dari tuduhan Noura. Sebuah tuduhan keji, yang muncul justru karena kecintaannya yang tak terperikan kepada Fahri. Airmata saya dengan begitu saja keluar dengan deras. Sebuah kecengengan (lebih tepat sebenarnya bila disebut sebuah keharuan!) yang membuat isteri saya terbengong-bengong.

“Kenapa, Ayah? Kok sampai menangis segala?”, tanya isteri saya. Penuh keheranan.

Sambail tersenyum kecil dan menyeka airmata saya cuma bisa menarik nafas dalam-dalam, kebingungan menjelaskan mengapa saya menangis.

“Kamu baca sajalah, nanti kamu tahu mengapa saya menangis!”. Cuma itu akhirnya penjelasan saya.

Shubhanalloh!! Sungguh sebuah novel amat luar biasa!! Terimakasih, Kang Abik. Antum mencerahkan hati saya secara amat mendalam. Saya akan menyempatkan diri membaca karangan-karangan antum yang lain. Insya Allah.

Anna Wa Laila

Monday, January 7th, 2008

kazem.jpgAmong any other Arabic songs Anna Wa Layla is my real favorite one. I can enjoy the song while I am driving my car, and my tired body will get fresh at any momment. Here is the lyric of the song and you can listen to the song here.

Anna Wa Layla
Layla and Me

ماتت بمحراب عينيك ابتهالاتي
My entreaties died in the caverns of your eyes.
واستسلمت لرياح اليأس راياتي
And my flags surrendered to the winds of despair.
جفلت على بابك الموصد أزمنتي
My days escaped to find your door closed.
ليلى
Layla.
وما أثمرت شيئا نداءاتي..
And what transpired with the object of my cries?
عامان ما رف لي لحن على وتر..
Two years and she didn’t hear the melody of my strings…
ولا استفاقت على نور سماواتي
And she didn’t the see light of my sky.
أعتق الحب في قلبي وأعصره..فارشف الهم
I freed the love in my heart and squeezed it…Then I drank grief
في مغبر كاساتي
From a dirty chalice.

ممزق أنا..لا جاه ولا ترف يغريك في
And I became torn. I had no prestige or luxury to tempt you with.
فخليني لآهاتي..
So then leave me with my grief ..
لو تعصرين سنين العمر أكملها ..
If you squeeze the years of my life completely,
لسال منها نزيف من جراحاتي
The blood from my wounds would flow.
لو كنت ذا ترف ما كنت رافضة حبي..
If I had riches, you would not have refused my love.
ولكن عسر الحال، فقر الحال، ضعف الحال مأساتي.
But I am in a state of difficulty, a state of poverty, a state of weakness.

عانيت..عانيت
I suffered… I suffered
لا حزن أبوح به..ولست تدرين..شيئا عن معاناتي.
But I do not reveal my sorrow, and you did not know a thing about my suffering .
أمشي واضحك..ياليلى..مكابرة
I walk and smile, oh Layla, because I’m stubborn.
على اخبئ عن الناس احتضاراتي
So I hide from the people, my approaching death.
لا الناس تعرف ..ما امري فتعذرني
For if the knew what is the matter, they would try to console me.
ولا سبيل لديهم في مواساتي..
And I knew that they could not.
يرسو بجفني حرمان يمص دمي
Deprivation rests upon my brow and sucks my blood.
ويستبيح اذا شاء ابتساماتي
And only he can allow me to smile.
معذورة أنت ان اجهضت لي أملي
You are forgiven for aborting my hopes.
لا الذنب ذنبك بل كانت حماقاتي..
The fault is not yours; it was my foolishness.

أضعت في عرض الصحراء قافلتي
I wasted my procession in the desert.
و جئت أبحث في عينيك عن ذاتي..
And I came, looking for myself in your eyes.
و جئت احضانك الخضراء منتشيا
And I came, looking for happiness in your embrace.
كالطفل يحمل ..أحلامي البريئات
Like a child, I formed my innocent dreams.
غرست كفك تجتثين اوردتي
And you planted your palms and uprooted my veins.
وتسحقين بلا رفق مسراتي
And you are planted without the kindness of my pleasures.

وا غربتاه…
And she emigrated…
مضاع هاجرت مدني..عني
My lost cities emigrated away from me
وما أبحرت منها شراعاتي..
And my sails never left her.
نفيت واستوطن الأغراب في بلدي
I was exiled and the strangers settled in my country
ودمروا كل أشيائي الحبيبات..
And they destroyed all my beloved things.
خانتك عيناك
Your eyes betrayed you.
في زيف وفي كذب
With forgery and lying
أم غرك البهرج الخداع
Your confusion decieved you.
مولاتي
My lady.

فراشة جئت ألقي كحلا أجنحتي لديك
I came as a butterfly to place within your hands, the colors of my wings.
فاحترقت ظلما جناحاتي..
Then injustice burned my wings.
أصيح والسيف مزروع بخاصرتي
I screamed while the sword was implanted in my chest.
والغدر حطم آمالي العريضات
And the betrayal destroyed my huge hopes.
وأنت ايضا الا تبت يداك..
And you also, I perished on your hands.
الا تبت يداك
I perished from your hands.
اذ آثرت قتلي واستعذبت أناتي
Because you preferred my murder and loved the sound of my groans.
ملي بحذف اسمك الشفاف من لغاتي
And so I deleted your precious name from my languages.
إذن ستمسي بلا ليلى… ليلى
Therefore, they will be told without Layla… Layla
إذن ستمسي بلا ليلى ..حكاياتي
Therefore they will be told with

Televisi

Sunday, January 6th, 2008

tv.jpgDulu waktu saya kecil televisi adalah barang mewah. Hanya keluarga tertentu saja yang memilikinya. Bila ingin menonton TV kita harus rela bersandar di balik jendela kaca rumah tetangga yang memilikinya. Kadang tirai jendela itu tidak dibuka sepenuhnya. Nyamuk …? Jangan ditanya lagi! Suara televisi seringkali ditingkahi bunyi telapak tangan menampar nyamuk yang menggigit.

Saya biasa menumpang nonton di rumah pak camat di depan rumah. Bila tirainya tidak dibuka, walau jendela sudah diketuk berkali-kali, bersama-sama dengan teman lain saya memilih sebuah rumah lain agak sedikit jauh dari situ. Abi (panggilan ayah saya) hanya memberi izin menonton sampai jam 20.00 saja. Setelah itu, seramai apapun acaranya, saya harus pulang. Kalau tidak pasti ada orang suruhan abi memaksa saya pulang.

Ketika saya duduk di kelas 5 SD barulah keluarga kami diberi cukup rezeki untuk membeli sebuah televisi. Sebuah kotak kecil berukuran 14 inchi yang hanya bisa mamancarkan gambar hitam putih.

Sekarang ……

Televisi cukup besar di ruang tengah itu hampir tidak pernah ditonton. Pembantu dan ibu mertua saya lebih senang menonton televisi di ruang keluarga lain. Ada sebuah Sony 21 inchi di sana. Hirzy, anak saya yang sulung (bila sedang tidak pulang ke tempat kosnya) menonton televisi di komputernya. Begitu juga, Tidy, anak kedua saya. Dia lebih suka menikmati acara televisi di kamarnya. Sedang Hilly, anak saya yang ketiga, waktu sunatan kemarin minta dihadiahi Playstation plus tv yang harus diletakkan di kamarnya; dia lebih senang nonton di kamarnya. Si bungsu Daffa dan kakaknya Zhilal tidak punya tempat favorit buat nonton.

Saya jadi teringat ketika saya menonton tv bersandar di jendela rumah tetangga sambil sibuk mengusir nyamuk ..