Archive for October, 2007

Hape

Wednesday, October 3rd, 2007

hp.jpgSaya bukan orang sibuk. Saya bukan orang penting. Dan, lebih-lebih lagi, saya juga bukan orang kaya. Kadang saya merasa sebagai separuh penganggur. Kadang saya merasa apapun akan berlangsung normal meski tidak ada saya. Kadang saya merasa sebagai fakir (orang yang pengeluarannya lebih besar daripada penghasilannya).

Paling tidak demikianlah yang saya rasakan.

Namun kalau hanya sebuah hape alhamdulillah saya punya. Kesempatan memiliki hape mulai saya rasakan pada saat sistem yang dipakai masih menggunakan AMPS. Operatornya bernama Komselindo. Kantornya ada di Gedung Elektrindo Nusantara (sekarang Gedung Cyber). Bentuk hapenya lumayan besar, merknya Motorolla, dan harus di-charge setiap hari. Jika menggunakan jenis batere yang tipis malah cuma sanggup sampai siang. Sistem GSM baru muncul kemudian. Masih sangat jelek kinerjanya pada waktu itu, dan sering diplesetin Goyang Sedikit Mati.

Sekarang, saya memakai hape yang menurut saya sangat pas buat saya. Sebuah hape dengan layar hitam-putih, CDMA, lumayan tipis, buatan China, dan harganya tidak sampai 400 ribu rupiah. Saya fikir buat apa saya memakai hape canggih, wong cuma dipakai buat sms dan sesekali menelpon rumah untuk minta Mun (pembantu saya) membukakan pintu gerbang sesaat sebelum saya sampai di depan rumah. Dan tentu terasa menggelikan bila ada yang menggunakan hape canggih tetapi tidak mampu mengoptimalkan segala kelebihannya. Di samping, hape yang canggih tentu saja mahal. Jika saya memaksakan diri membelinya saya akan bertambah fakir.

Operator yang saya pilih adalah Esia. Alasannya cukup sederhana: seorang sahabat menyodorkan sederet nomor bagus yang bisa saya pilih. Bingung, karena semuanya nomor-cantik. Akhirnya saya memilih dua: 999 555 45 dan 999 555 32. Nomor yang pertama kerana dua angka terakhirnya berkesan heroik, sedangkan yang kedua karena 2 nomor terakhirnya sama dengan nomor rumah saya. Satu saya gunakan sendiri, yang lainnya dipakai anak saya.

Pulsa yang saya beli setiap bulan lumayan ‘besar’: di kisaran 50 ribu rupiah saja. Pulsa sebesar itu sudah sangat mencukupi buat saya. Itupun kadang dipakai oleh ketiga anak saya (dua lainnya kelas 0 besar dan 1 sd belum lazim memakai hape) buat menghubungi teman-temannya.

So, what kind of handphone do you use?

Rokok

Tuesday, October 2nd, 2007

rokok1.jpgSaya berhenti merokok pada waktu anak saya yang pertama lahir. Sudah lama sekali terjadi. Saya terpaksa berhenti karena isteri saya yang saat itu sedang hamil tua tiba-tiba saja benci sekali melihat saya merokok. Seperti orang mengidam yang meminta sesuatu tanpa logika sama sekali. Untuk menghargainya (atau lebih tepat lagi untuk menghindari raut mukanya yang mendadak masam) saya hanya merokok sambil “bersembunyi” di wc belakang, karena bila saya merokok di wc kamar baunya pasti berbekas.

Ketika kemudian saat melahirkan tiba, dan saya dengan amat cemas melihat raut wajahnya yang kesakitan, saya berjanji berbuat sesuatu yang akan membuatnya senang. Beberapa hari kemudian saat saya tanyakan kepadanya dia langsung menjawab: “Kalau bisa sih berhenti merokok.”

Dan saya menyanggupinya …..

Tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Tetapi yang penting saya bisa berhenti merokok. Sampai sekarang!! Saat anak saya yang saya ceritakan di atas hampir menyelesaikan kuliah S1 nya (insha Allah).

Lantas yang layak dipertanyakan adalah:

Apa nama yang pas diberikan kepada seseorang yang dengan sadar membeli racun berbahaya dan kemudian memasukkan racun itu ke dalam badannya sendiri, sambil juga meracuni orang-orang di sekitarnya?

Mohon maaf, seorang teman saya menyebut orang itu dengan sebutan: AMAT BODOH!