Archive for the ‘Guyon’ Category

Ho oh ..

Friday, January 22nd, 2010

Catatan: Ini “copy-paste” ..

Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dari Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok. “Apa betul ini Jalan Sudirman?” “Ho oh,” jawab si penjual rokok.

Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. “Apa ini Jalan Sudirman?” Polisi menjawab, “Betul.”

Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudannya. “Apa ini Jalan Sudirman?” Gus Dur menjawab “Benar.”

Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab “Ho oh,” lalu tanya polisi dijawab “betul” dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata “benar.”

Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata, “Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya benar.”

Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, “Jadi Anda ini seorang sarjana?”

Dengan spontan Gus Dur menjawab, “Ho … oh!”

Macbook

Friday, March 27th, 2009

Beberapa bulan terakhir ini laptop Hawlett-Packard saya jarang saya pergunakan lagi karena saya jauh lebih merasa nyaman bekerja dengan Macbook. Rupanya banyak juga tokoh-tokoh dunia yang *menggikuti* langkah saya memakai Macbook. ;)

[Ge-er mode on]
obama_computer

Gambar di atas ini “teman” saya waktu esde dulu. Dia bersekolah di SD Besuki Menteng, saya di SDN Teladan Bekasi Pasar. Saya tidak perlu memperkenalkan lebih jauh kan? Kalau masih belum kenal juga, baiklah saya perkenalkan saja, namanya: Husein (lengkapnya: Barack Husein Obama), lahir di Honolulu, Hawaii, 4 Agustus 1961.

Yang di samping ini anda kenal enggak ?

Bokapnya bernama Anatoly Afanasyevich Medvedev, sedangkan nyokapnya bernama Yulia Veniaminovna Medvedeva. Dia sendiri bernama: Dmitry Anatolyevich Medvedev, lahir 14 September 1965 di Leningrad (kini St. Petersburg), seorang politikus Rusia yang terpilih menjadi presiden pada tanggal 2 Maret 2008. Orangtua Medvedev mendorongnya untuk belajar sains, tetapi dia lebih berminat pada bidang hukum. Medvedev sendiri mengambil jurusan hukum di Fakultas Hukum Universitas Negeri Leningrad. Dalam perjalanan karirnya, Medvedev melanjutkan ke program doktor dan selesai pada 1990 dengan spesialisasi hukum privat, korporat dan sekuritas. Sejak itu, dia mengajar sampai tahun 1999.

See ? Rupanya bukan cuma Macbook dia mengekor dari saya. Sampai-sampai pekerjaan saya pun ditirunya … hehehe

Dan di bawah ini Yang Mulia Syeikh Abu Nawaf juga sedang sibuk dengan Apple beliau.

macbookair33

And … the last but not least .. inilah the most handsome man among them (ehm!):

Yes, you are awfully quiet right. It’s me I …

Mimpi

Thursday, January 29th, 2009

dreamingKata sementara orang ada perbedaan antara cita-cita dengan mimpi. Perbedaannya ada pada kemasuk-akalan keduanya. Bila masuk akal, itulah cita-cita. Bila tidak, sebut sajalah itu mimpi.

Salah satu mimpi saya adalah mengganti “si bongsor” (sebutan untuk Kia Carnival) dengan sebuah Toyota Alphard terbaru. Saya menyebutnya mimpi karena lewat hitung-hitungan normal dengan mengandalkan penghasilan kami berdua (isteri saya dan saya) tidaklah mungkin mobil seharga circa 800 juta rupiah itu dapat kami beli. Kecuali semua penghasilan kami ditabung dan kami sekeluarga tidak usah makan selama berbulan-bulan. Hal yang tentu saja mustahil.

Untuk “wara-wiri” ke sana ke mari saya ingin sekali memiliki sebuah city-car yang irit dan bisa diajak berlari-lari kecil di jalan toll. Sebuah Honda Jazz terbaru dengan kisaran harga >200 juta rupiah selalu menari-nari enerjik di pelupuk mata saya menggantikan Kia Sephia (baca: Timor) jadul yang sudah saya pakai sejak tahun 1997. Yang satu ini mungkin bukanlah mimpi, tetapi lebih kepada sebuah cita-cita; meski juga entah kapan terlaksananya.

Mimpi saya yang lain adalah memiliki sebuah Hasselblad H3D-39 Kit 70360570 untuk menggantikan Nikon D60 yang beberapa waktu ini saya gunakan untuk menyalurkan hasrat fotografi saya. Bagi yang (maaf) belum tahu, Hasselblad adalah merk kamera impian para penggila fotografi. Harganya lebih dari 298 juta rupiah. Buat kebanyakan orang memiliki sebuah kamera seharga demikian adalah perbuatan “gendeng” di saat ekonomi kian menjepit seperti sekarang ini.

Tapi, sekedar bermimpi tidak ada salahnya, bukan? Siapa tahu ada kerabat kerajaan Arab Saudi yang kebingungan menghabiskan uangnya membaca tulisan saya ini. Kemudian beliau mengutus orang membawakan benda-benda impian saya itu ke rumah saya di Bekasi.

Atau, ada seorang “secret admirer” cantik yang bingung menghabiskan uangnya menghubungi seraya manyatakan bahwa semua mimpi di atas akan segera terwujud asal saja saya mau memperisterinya (meski menjadi isteri kedua) … Hahahahaha!
(Fyi, it’s ok for my wife if I want to get married again, as long as the wife is so rich that she won’t disturb my financial condition.) {Ge-er mode ON} ;)

Keep on dreaming, Ihsan !

? ? ?

Tuesday, April 25th, 2006

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, “Not a play! Not a play!”

Nadine bengong. “Not a play?”

“Yes. Not a play. Bukan main.”

Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. “Bukan main itu bukan not a play, Djan.”

“Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.(Orang saya sudah periksa di kamus kok)”

Lalu berpaling ke Nadine. “Lady, let’s corner (Mojok yuk). But don’t think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan). I just want a meal together.”

“Ngaco kamu, Djan,” Tukidjo tambah gemes.

“Don’t be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK toch.?”

Nadine cuman senyum kecil. “I would love to, but …”

“Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak)” sambut Wakidjan ramah.

“Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various kok
(Saya nggak akan macam-macam kok).”

Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. “Disturbing aja sih, Djo. Does
the language belong to your ancestor (Emang itu bahasa punya moyang lu)?”

Tukidjo cari kalimat penutup. “Just itchy Djan, because you speak English as delicious as your
belly button.” (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe).

Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, “His name is also effort.” (Namanya juga usaha)


Contekan dari sebuah milis.

Tail

Tuesday, December 13th, 2005

Tarzan and the animals went to the river to take a bath. When Tarzan took off his clothes, all the animals laughed.

Tarzan asked: Why ?

The animals said: “Misplaced tail”.