Memimpin Sidang

March 2nd, 2010

Sekitar tahun 1979, dalam sebuah acara Latihan Dasar Kepemimpinan sebuah organisasi pemuda Islam yang saya ikuti, panitia menetapkan saya sebagai seorang pemimpin sidang dalam session “Teknik dan Tata Cara Bersidang”. Dengan bangga, karena terpilih dari sekian puluh peserta latihan, saya berpindah tempat duduk dan mulai membuka sidang. Belum sempat saya bicara banyak beberapa panitia langsung menghujani saya dengan interupsi yang membuat saya bingung, panik, dan tak bisa berfikir apa yang sepatutnya saya lakukan. Rasanya saya seperti ingin menangis menghadapi hujan-badai interupsi itu, yang belakangan saya ketahui disengaja oleh panitia untuk mengetahui respons saya, yang lalu dijadikan bahan bahasan bagi semua peserta latihan.

Saya sudah lupa bagaimana “nasib” saya selanjutnya waktu itu. Tetapi melihat wajah pak Marzuki Alie, Ketua DPR kita yang terhormat dalam sudang paripurna kasus Century hari ini, mengingatkan saya atas “nasib” saya puluhan tahun yang silam itu.

Apakah mimik wajah yang terhormat pak Marzuki Ali tadi persis seperti wajah saya dulu ..? Wallahu a’lam!

4 Pelajaran di balik musibah.

February 19th, 2010

Catatan: Sebuah copy-paste dari: http://bit.ly/bbZ89N.

Pada satu zaman ada seorang raja yang amat zalim. Hampir setiap orang pernah merasakan kezalimannya itu. Pada suatu ketika, raja zalim ini ditimpa penyakit yang sangat berat. Maka seluruh tabib yang ada pada kerajaan itu dikumpulkan. Di bawah ancaman pedang, mereka disuruh untuk menyembuhkannya. Namun sayangnya tidak ada satu tabib pun yang mampu menyembuhkannya.

Hingga akhirnya ada seorang rahib yang mengatakan bahawa penyakit sang raja itu hanya dapat disembuhkan dengan memakan sejenis ikan tertentu, yang sayangnya saat ini bukanlah musimnya ikan itu muncul ke permukaan. Betapa gembiranya raja mendengar khabar ini. Meskipun raja menyadari bahwa saat ini bukanlah musim ikan itu muncul ke permukaan namun disuruhnya juga semua orang untuk mencari ikan itu. Aneh bin ajaib … . walaupun belum musimnya, temyata ikan itu sangatlah mudah ditemukan. Sehingga akhirnya sembuhlah raja itu dari penyakitnya.

Di lain waktu dan tempat, ada seorang raja yang amat terkenal kebijaksanaannya. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Pada suatu ketika, raja yang bijaksana itu jatuh sakit. Ternyata kesimpulan para tabib sama, yaitu obatnya adalah sejenis ikan tertentu yang saat ini sangat banyak terdapat di permukaan laut. Karena itu mereka sangat optimis rajanya akan segera pulih kembali.

Tapi apa yang terjadi? Ikan-ikan yang seharusnya banyak dijumpai di permukaan laut itu, tidak ada satu pun yang tampak. Walaupun pihak kerajaan telah mengirimkan para ahli selamnya, tetap saja ikan itu tidak berhasil diketemukan. Sehingga akhirnya raja yang bijaksana itu pun mangkat.

Dikisahkan para malaikat pun kebingungan dengan kejadian itu. Akhirnya mereka menghadap Tuhan dan bertanya, “Ya Tuhan kami, apa sebabnya Engkau mengirim ikan-ikan itu ke permukaan sehingga raja yang zalim itu selamat, sementara pada waktu raja yang bijaksana itu sakit, Engkau menyembunyikan ikan-ikan itu ke dasar laut sehingga akhirnya raja yang baik itu meninggal?”

Tuhan pun berfirman,”Wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya raja yang zalim itu pernah berbuat suatu kebaikan. Karena itu aku balas kebaikannya itu, sehingga pada waktu dia datang menghadap-Ku, tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang dibawanya. Dan aku akan tempatkan ia pada neraka yang paling bawah!

Sementara raja yang baik itu pernah berbuat salah kepada-Ku, karena itu aku hukum dia dengan menyembunyikan ikan-ikan itu, sehingga nanti dia akan datang menghadap-Ku dengan seluruh kebaikannya tanpa ada sedikit pun dosa padanya, karena hukuman atas dosanya telah Kutunaikan seluruhnya di dunia!”

Kita dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah ini.
Pelajaran pertama adalah: Ada kesalahan yang hukumannya langsung ditunaikan Allah di dunia ini juga, sehingga dengan demikian di akhirat nanti dosa itu tidak diperhitungkan-Nya lagi. Keyakinan hal ini dapat menguatkan iman kita apabila sedang tertimpa musibah.

Pelajaran kedua adalah: Apabila kita tidak pernah tertimpa musibah, jangan terlena. Jangan-jangan Allah menghabiskan tabungan kebaikan kita. Keyakinan akan hal ini dapat menjaga kita untuk tidak terbuai dengan lezatnya kenikmatan duniawi sehingga melupakan urusan ukhrowi.

Pelajaran ketiga adalah: Musibah yang menimpa seseorang belum tentu kerana orang itu telah berbuat keburukan. Keyakinan ini akan dapat mencegah kita untuk tidak berprasangka buruk menyalahkannya, justru yang timbul adalah keinginan untuk membantu meringankan penderitaannya.

Pelajaran keempat adalah: Siapa yang tahu maksud Allah ?

Valentine? NOWAY!!!

February 14th, 2010

Saya sedang malas menulis, jadi saya sertakan saja beberapa links di sini. Jika berkenan silakan di-klik.

http://www.baitul-hikmah.com/hukum-merayakan-valentine-day-613/

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/valentine-lubang-biawak-di-bulan-februari.htm

http://swaramuslim.com/galery/more.php?id=A5856_0_18_0_M

http://www.bloggaul.com/kaitojeanne/readblog/97863/valentine-itu-haram

Tentu masih banyak link yg lain. Silakan klik link Google berikut:
http://www.google.co.id/search?q=valentine+dalam+pandangan+islam

Ho oh ..

January 22nd, 2010

Catatan: Ini “copy-paste” ..

Seorang ajudan Presiden Bill Clinton dari Amerika Serikat sedang jalan-jalan di Jakarta. Karena bingung dan tersesat, dia kemudian bertanya kepada seorang penjual rokok. “Apa betul ini Jalan Sudirman?” “Ho oh,” jawab si penjual rokok.

Karena bingung dengan jawaban tersebut, dia kemudian bertanya lagi kepada seorang Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. “Apa ini Jalan Sudirman?” Polisi menjawab, “Betul.”

Karena bingung mendapat jawaban yang berbeda, akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur yang waktu itu kebetulan melintas bersama ajudannya. “Apa ini Jalan Sudirman?” Gus Dur menjawab “Benar.”

Bule itu semakin bingung saja karena mendapat tiga jawaban yang berbeda. Lalu akhirnya dia bertanya kepada Gus Dur lagi, mengapa waktu tanya tukang rokok dijawab “Ho oh,” lalu tanya polisi dijawab “betul” dan yang terakhir dijawab Gus Dur dengan kata “benar.”

Gus Dur tertegun sejenak, lalu dia berkata, “Ooh begini, kalau Anda bertanya kepada tamatan SD maka jawabannya adalah ho oh, kalau yang bertanya kepada tamatan SMA maka jawabannya adalah betul. Sedangkan kalau yang bertanya kepada tamatan Universitas maka jawabannya benar.”

Ajudan Clinton itu mengangguk dan akhirnya bertanya, “Jadi Anda ini seorang sarjana?”

Dengan spontan Gus Dur menjawab, “Ho … oh!”

Tempus fugit

January 11th, 2010

Ketika terbangun oleh azan Subuh tadi mata saya langsung melirik jam dinding dan seketika sadar bahwa jam itu mati. Jarum pendeknya ada di angka 12, sedang jarum panjangnya terletak di antara angka 3 dan 4. Saya langsung mandi, sholat Subuh dan selanjutnya mencari-cari batu batere di laci. Biasanya saya selalu menyediakan beberapa untuk pengganti batere di wireless mouse saya.

Saya ingat betul jam dinding bermerk Seiko itu sudah amat lama menempel di dinding; bahkan sebelum saya pindah rumah ke jalan Dewi Sartika ini. Sebuah hadiah pernikahan dari boss isteri saya: almarhum pak Suhartaji. Berarti jam dinding itu sudah mulai menunaikan tugasnya sejak pertengahan tahun 1985. 25 tahun yang silam.

Sambil berjingkat sedikit saya mengambil jam dinding itu, dan membaliknya. Telihat sebuah label dipenuhi debu yang bertuliskan : 1st change 27-03-87. Cukup lama juga sebuah batere mampu mencatu daya: sekitar 2 tahun.  Saya langsung memasang batu batere baru dan mencocokkan waktu di jam dinding itu.

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Begitu seterusnya. Semoga sajalah saya mampu mengisi waktu-waktu yang lewat dengan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. Amin.

Tempus fugit. Time really flies ..