Jan 06
Jika ada yang bertanya saya berdinas di mana saya akan menjawab bahwa saya seorang guru. Kadang saya tambahkan: “guru esde”. Ada yang percaya, ada yang tidak. Biar sajalah. Yang jelas faktanya saya memang seorang guru. Saya mengajar setiap hari. Mungkin karena sudah sejak lama saya berdiri di hadapan kelas sebagai pencarian nafkah saya buat keluarga, saya tidak punya keahlian lain selain mengajar.
Dan saya hafal benar dengan cerita-cerita idealistis tentang dunia guru. Pahlawan tanpa tanda jasa. Terseok-seok meniti hidup karena rendahnya pendapatan. Dan sebagainya. Saya faham benar cerita-cerita seperti itu. Karena saya memang mengalaminya. Selama puluhan tahun!
Saya merasa amat perlu berterimakasih kepada isteri saya. Rezekinya senantiasa menopang biduk rumah tangga kami supaya tidak tenggelam dihajar ombak. Ketika iseng-iseng kami membandingkan buku tabungan milik kami, dan angka pada buku tabungannya mempunyai digit yang lebih banyak, saya cuma menambah rasa syukur saya. Meski simpanan saya tidak banyak, lumayanlah jika ditambahkan dengan saldo tabungannya. Meski juga tidak amat banyak cukuplah kiranya menenangkan hati kami menelusuri hidup yang sangat keras dan kejam ini.
Dan ada lagi yang senantiasa menenangkan hati saya di saat kegalauan hidup seolah meluluh-lantakkan badan saya. Sebuah ucapan Sayyidina Ali RA:
“Ana ‘abdu man ‘allamani harfan, in sya`a ba’a, wa in sya`a a’taqa wa in sya’a istaqarra”
“Saya adalah hamba orang yang pernah mengajarkan satu huruf kepada saya, apabila ia mau boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap memperbudakku”.
Begitu mulianya kedudukan seorang guru di mata Sayyidina Ali, seorang Hamba Allah yang telah dijamin masuk Surga oleh Rosululloh.
Jan 05
Ya Allah, apa salah mereka?
Lihatlah wajah si kecil yang semestinya riang gembira, berlarian ke sana-kemari dalam suasana suka; bukan dalam keadaan bersimbah darah.
Lihatlah wajah ibunda yang seharusnya penuh kasih mengucurkan cinta kepada anak-anaknya; bukan dalam suasana ketakutan yang amat sangat.
Tolong, Ya Allah, turunkan laknatMu kepada bangsa durjana itu sekarang juga!!



Jan 03
Bagi isteri saya kata yang paling merdu terdengar adalah “SALE”. Buat saya tidak ada yang mengalahkan kemerduan kata “LIBUR”. Namun liburan panjang akhir tahun ini saya tidak pergi kemana-mana, setidaknya sampai tulisan ini saya buat. Karena bokek ..? Alhamdulillah tidak.
Tawaran mendadak adik saya untuk berliburan ke Jogja saya tolak. Dua rumah yang biasanya selalu saya datangi sewaktu liburan di Cisarua dan Ciater juga menjadi kehilangan keasikannya. Protes Hilly, anak saya yang ketiga, “liburan kok di rumah saja” cuma membuat saya tersenyum kecil.
Adik-adik saya yang berkumpul di rumah Cisarua berkali-kali esemes menanyakan kapan saya berangkat. Saya jawab bahwa kemungkinan besar saya tidak pergi kemana-mana. Saya di rumah saja.
Cuma ada sedikit keriaan di pergantian tahun ini. Teman-teman Hirzi, si sulung, berkumpul di rumah dan isteri saya dengan senang hati menyiapkan segala keperluan konsumsi mereka. Jadilah pergantian tahun baru ini diramaikan dengan pasang kembang api di halaman depan, sambil ditingkahi asap dari daging ayam yang dibakar Mun, pembantu saya.
Apa pasal?
Allah memberikan saya sedikit musibah. Mungkin agar saya bisa ber-muhasabah, mengevaluasi diri, bercermin pada kejujuran hati. Mudah-mudahan juga sebagai siksa dunia bagi saya atas dosa saya selama ini, sehingga saya terbebas dari siksa akhirat nanti. Musibahnya alhamdulillah kecil saja: saya sakit gigi. Sebuah “irama senut-senut” yang bercerita banyak tentang arti dan nikmatnya sehat.
Dan, ada juga sebuah pertanyaan idealistis yang selalu mengusik nurani saya beberapa hari terakhir ini: patutkah saya bersenang-senang di saat Israel dengan pongahnya menghajar Palestina dengan korban sedemikian besar ?
Selamat Tahun Baru 2009.
Dec 28
Bila pada kalender syamsiah pergantian hari terjadi pada jam 24:00 tengah malam, maka pada kalender qomariah pergantian hari terjadi pada (sekitar) jam 18:00. Jadi sekarang sudah 1 Muharrom 1430 H.
Mudah-mudahan di tahun baru ini rezeki saya ditambah oleh Yang Maha Kaya dan Maha Memiliki: ALLAH ROBBUL IZZATI. Amiin.
Selamat Tahun Baru Hijriah 1430 H.
Dec 27
Hampir setahun saya ditemani oleh Hawlette-Packard, dan tiba-tiba saja “penyakit” saya kambuh: bosen. Maka hari ini dengan sukses “setan-gadget” menggoda saya untuk membawa pulang sebuah MacBook putih manis yang lumayan tipis, namun lumayan juga menguras isi kantong. Anak saya yang sulung, Hirzi, yang kebetulan ikut melihat bagaimana prosesnya si “setan” menggoda ayahnya langsung tertawa cengengesan. Si HP sudah pasti jatuh ke tangannya dan si EEE mungkin akan menjadi bawaan Tidy, anak kedua saya.
Sejatinya Apple bukanlah sesuatu yang amat asing bagi saya. Sekitar tahun 1987 seorang teman Orari, (mas Gun / YC1HZU anda di mana ya sekarang?), menawarkan sebuah desktop apple-compatible IIe bermerk Datamini. IBM-PC seingat saya sudah muncul saat itu tetapi harganya lebih mahal. Saya pun waktu itu tidak cukup tahu perbedaan keduanya sehingga mengambil yang lebih murah saja. Cukup lama saya memakainya, sambil sering mengeluh karena keterbatasan software-nya. Desktop Apple IIe itu akhirnya cuma buat mengetik sambil bermain Lode Runner merintang-rintang waktu. Dari situlah saya mengenal komputer dan terus dengan sukses mempengaruhi kehidupan saya sampai saat ini.
MacBook, welcome to the family ..
Komentar